Bagaimana Sebuah Lokasi Bisa Menjadi Sebuah Data Penting yang Bernilai Jual

2

Besarnya pengguna internet di Indonesia ini, tidak lain tidak bukan adalah dampak dari kemajuan teknologi. Majunya teknologi inilah yang mempermudah hidup kita dalam berbagai aspek. Seperti halnya dengan lokasi, kita dapat dengan mudah membagikan keberadaan kita atau mengetahui keberadaan orang lain. Pasti kita semua pernah bertukar informasi mengenai lokasi kita dengan menggunakan fitur share location. Tapi, pernahkah Anda berpikir bahwa lokasi bukan hanya sekedar penunjuk arah atau penunjuk keberadaan Anda? Pernahkah Anda berpikir bahwa setiap lokasi memiliki perbedaan tersendiri, seperti di sini ramai tapi di sana tidak atau bahkan di sana maju di sini tidak?

Melihat habit seseorang melalui asset lokasi.

Percaya atau tidak, lokasi mempengaruhi 3 aspek dalam kehidupan kita. Aspek pertama adalah subject, yaitu diri kita sendiri sebagai pelaku yang bepergian ke beberapa lokasi. Aspek kedua ialah tempat yang mempengaruhi tujuan yang akan dilakukan oleh subject. Aspek terakhir adalah things karena dari sebuah lokasi dapat dilihat apa yang akan dilakukan oleh diri kita sebagai subject. Mengingat betapa pentingnya sebuah lokasi, saya ingin Anda tahu jika lokasi itu adalah asset yang dapat digunakan untuk menganalisis atau mengetahui habit seseorang.

Kita ambil contoh sederhana. Di sebuah kota terdapat sebuah mini mart. Di minggu pertama, mini mart tersebut menaruh susu di rak paling depan karena menurut analisa mereka, di kota tersebut susu adalah produk yang paling jarang dibeli. Dari sini terlihat, habit manusia di sebuah kota dapat digunakan untuk memetakan kebutuhan si pembeli.

Dulu, GIS ini hanya berbasis desktop. Semakin majunya teknologi, GIS pun terus berkembang dan bertransformasi menjadi web services dan platform-platform baru. Untuk Anda, para programmer, yang ingin mendalami GIS, tidak perlu khawatir akan biaya source yang mahal karena banyak sekali open source gratis yang justru lebih maju untuk digunakan.

GIS ini memudahkan kita untuk mendapatkan data dari lokasi-lokasi yang dituju oleh semua orang. Jika dulu kita cuma bisa menggunakan survei untuk mengambil data, sekarang data bisa diambil secara real time melalui Internet of Things (IoT) yang kita gunakan sehari-hari. Banyak sekali IoT yang kini dijual dengan harga sangat terjangkau. Hal tersebut dilakukan karena ingin mengumpulkan data dari banyak orang sekaligus. Kalau data sudah terkumpul jangan ditanya untuk apa. Karena semua data bisa berubah menjadi uang.

Tempat Kursus Komputer Terbaik | Digital Marketing, Programming, SEO, Dll.

Mengambil data GIS melalui perangkat IOT

Sebagai contoh IoT yang berupa smartphone atau smartwatch. Dari situ ada sensor-sensor yang merekam aktivitas kita. Misal saat gajian, kita lebih sering pergi ke mana. Data seperti itu akan terus dikumpulkan oleh perangkat IoT untuk kemudian dianalisis agar dapat menawarkan produk yang cocok sesuai minat dan kesukaan kita. Tak hanya itu, untuk Anda yang gemar menggunakan social media, dengan hanya mengaktifkan fitur high location accuracy, segala gerak-gerik Anda maupun keberadaan Anda tercatat di geo-location dan setelah terkumpul menjadi ribuan atau bahkan jutaan akan dianalisis menjadi data di GIS untuk mengetahui pola tren yang dapat ditawarkan kepada Anda.

Semua smartphone atau gadgets yang terhubung ke internet telah mencatat data diri kita maupun mengumpulkan jejak lokasi kita sehari-hari dan kemudian oleh pihak developer diolah sebagai data. Jika tidak ingin diketahui segala privasi, langkah satu-satunya adalah membut sistem sendiri.

Tentunya bukanlah hal mudah untuk membuat sistem ataupun aplikasi sendiri karena memerlukan waktu dan biaya yang tidak murah. Belum lagi harus mempromosikan sistem atau aplikasi tersebut agar digunakan oleh masyarakat luas. Coba tengok BukaLapak, Shopee, dan Tokopedia yang gencar membakar uang agar aplikasi dan sistemnya di download banyak orang.

Memanfaatkan data yang sudah terekam

Lantas, bagaimana harus menyikapi data penting pribadi kita yang telah terekam jelas oleh para pemilik sistem? Salah satunya ialah membeli datanya, kemudian mengolahnya agar dapat bermanfaat bagi banyak orang. Tidak perlu membuat aplikasi, Anda bisa saja berkolaborasi dengan penyedia jasa aplikasi yang telah lebih dulu popular untuk mengembangkan data yang Anda peroleh agar bermanfaat.

Sebagai contoh, di hampir semua kementerian kini telah membagikan informasi kepada masyrakat sesuai spesialisasinya. Kementerian Kehutanan hanya akan membahas kehutanan. Begitupun dengan Kementerian Pertanian yang hanya akan membagikan informasi mengenai pertanian. Hal ini disebabkan data yang diperoleh menunjukkan jika masyarakat lebih menyukai pusat informasi yang teratur dan tertata.

Contoh lainnya, di beberapa kota yang mengusung konsep smart city, telah memanfaatkan data untuk kemajuan kotanya. Di Tangerang ada Tangerang Live yang dapat mendeteksi apakah akan terjadi banjir atau tidak melalui sensor yang dipasang di dekat sungai. Jika air melewati batas sensor, aplikasi tersebut akan langsung mengirim pesan singkat ke lurah untuk mewaspadai potensi banjir. Hal serupa juga diterapkan di Semarang yang memiliki sistem untuk memudahkan penggunanya mengetahui penunjuk arah di kota tersebut. Karena di era-nya GIS ini, kita udah tidak menembak ke database lagi, tapi ke web service sehingga menghasilkan data yang real time dan dapat digunakan oleh semua orang. Ya, semuanya hanya bermula dari teknologi yang dapat merekam lokasi Anda dan membuat turunannya menjadi habit Anda.

Jika anda ingin bertanya ke Ahmad Syarif . Silahkan masukkan pertanyaan anda pada kolom di bawah

Share.

About Author

Ahmad Syarif

Chief Marketing Officer at PT. Mitra Tech Indonesia & Spesialis Geographic Information System

2 Komentar

  1. Dino Muhammad on

    Saya masih awam dalam hal – hal seperti itu lah, bisa di jelasin lebih lanjut nggak entah itu langkah – langkahnya atau apalah

Leave A Reply