Mengenal Bagaimana Peran CTO sebagai Benteng Perusahaan

0

Untuk sebuah perusahaan, seperti startup sangat penting untuk memiliki struktur perusahaannya untuk mengatur dan memastikan peran dan tanggung jawab setiap orang dalam perusahaan tersebut.

Salah satu bidang yang mempunyai peran penting dalam hal itu adalah CTO, dimana seorang pemimpin dan ahli teknologi serta yang sangat bertanggung jawab pada proses pengelolaan tim engineer.

Baca Artikel Terkait : Tips Menjadi Product Manager Yang Efektif

Untuk menguasai bidang CTO, orang dituntut agar jangan sampai hanya menguasai technical saja, hal penting lainnya yang harus di asah yaitu softskill seperti menjalankan negoisasi dan harus berinovasi agar bisa mengembangkan teknologi tersebut di masa depan.

Hal ini menjadi menarik perhatian babastudio untuk melakukan wawancara eksklusif dengan Buyung Bahari, yang berprofesi sebagai CTO dan juga sosok yang aktif di komunitas IT Indonesia.

Berikut hasil wawancara kami:

Apa kabar Pak Buyung?

Baik Mas Pandu

Apa Pak Buyung Dapat menceritakan sedikit mengenai CTO?

Inti dari posisi CTO yaitu yang memegang departemen teknologi. Jadi kalau disebut di Kementerian disebut Tim Tech. Tim tech adalah yang bertanggung jawab atas segala macam yang berhubungan dengan pengembangan teknologi.

Sekarang disebut CTO dan kalau dulu yang lebih kecil lagi dinamai dengan Development Manager. Sebenarnya jenjangnya banyak, hanya saja biasanya untuk perusahaan startup rata-rata dinamai dengan CTO.

CTO tersebut bukan hanya soal technical saja yang harus dipegang, tetapi softskill, bagaimana negosisasi, bagaimana menentukan teknologi kedepannya. Misalnya bagaimana masa depan dari sebuah teknologi untuk perusahaan, terutama kecocokannya.

Selain itu tentang costingnya, jadi bukan hanya soal teknologi tetapi apakah secara biaya itu efisien untuk perusahaan. Jadi begitu secara garis besar pekerjaan saya.

Selain itu juga, bukan hanya soal backend, frontend dan juga mobile, itu juga setidaknya harus tau kedepannya masing-masing dari teknologi yang dikembangkan itu apakah masih relevan untuk sekarang.

Kalau misalnya kita ketinggalan 2 tahun, untuk mengupgradenya itu butuh cost yang sangat tinggi. Selain itu juga kita harus memenuhi ekspektasi bisnis. Jadi kadang-kadang di dalam pekerjaan itu harus ada kompromi juga, yang paling sulit adalah kompromi soal kualitas.

Jadi, misalnya dari tech team ingin kualitas yang baik, tapi dari bisnis maunya cepat. Misalnya mereka tanggal sekian sudah harus launch karena mereka harus mengejar.

Misalnya di startup itu namanya next, next funding yang mereka targetkan, nah ini juga kadang-kadang kita harus mengambil keputusan-keputusan yang cukup sulit. 

Namun misalnya dalam perjalanan kita mengikuti dulu, nanti setelah itu OK, langsung kita perbaiki secara cepat untuk sisi kualitas karena at the and kita tidak mau adanya technical debt.

Technical debt itu apa? Seperti halnya kalau meminjam uang ke Bank, diawalnya kita senang dapat uang banyak, tapi yang paling sulit adalah setelahnya yaitu membayar cicilan.

Sama dengan software ketika kita mengembangkan itu dengan kualitas yang buruk itu dibelakangnya banyak bug. Itu bugnya harus kita bayar dengan waktu kita yang mungkin sempit karena harus mengembangkan fitur-fitur lainnya.

Nah, ini yang banyak terjadi di perusahaan yang fail dalam membangun teknologi karena tidak memperhatikan dari segi kualitas. Itu sih.

peran CTO, Chief Technology Officer,
Sumber Image : Shutterstock

Bagaimana peluang menjadi seorang CTO sekarang dan kedepannya?

Sebenarnya begini, kalau misalnya seseorang kadang-kadang ada suatu hal kesalahan juga. Misalnya begini ya, ada beberapa jenjang.

Misalnya dalam sebuah departemen seorang technical it yang memang jago. Kemudian dia ditempatkan sebagai posisi, sorry bukan, seorang software engineer yang jago, kemudian dia tiba-tiba ditempatkan sebagai technical it.

Nah, ini menjadi sebuah problem karena technical, bukannya technical it ya, tapi sebetulnya manager engineering, ini adalah sebuah problem karena manager itu membutuhkan softskill.

Sedangkan kalau yang softskill nya jago itu mereka lebih banyak berhubungan dengan technical, dengan komputer. Nah, ini akibatnya ketika dinaikkan keatas, dia menjadi distruction sedangkan technical dia akan jelek sekali.

Kenapa? Karena dia tidak menguasai softskill dia dengan baik dan akibatnya keliatannya performance nya menurun.

Ini yang sering salah, padahal dua jalur, dimana ada namanya engineering manager ada namanya technical architect, ini dua hal yang berbeda, atau ada sebutannya lagi software architect.

Kalau seperti BukaLapak, BliBli, ataupun yang lainnya itu biasanya ada namanya Principle engineer, itu dia tidak berbuhungan dengan managerial.

Ada yang disebut dengan manager atau development manager, nah itu hal yang berbeda, tinggal mau mengambil yang mana.

Engineering manager itu lebih banyak berhubungan dengan people, dengan orang, bagaimana memanage orang, bagaimana memanage developer, bagaimana memblock sebuah permintaan yang tidak perlu untuk developer atau saya sebut sebagai “tameng”.

Sedangkan technical architect itu apa? software architect itu berhubungan dengan technical, jadi technical of spackle.

Jadi, misalnya kalau software engineer ada yang terkena obstacle, yang membantu adalah Principle engineer atau yang disebut dengan software engineer technical architect, itu banyak namanya.

Mereka akan mencarikan solusi untuk software engineer ini mereka memberikan semacam clue, semacam tips “oh kamu menggunakan ini saja” atau dia menerapkan sebuah standar, jadi standar ini harus diikuti, jadi berhubungan sama technical  memang seperti itu.

Nah, ini yang sering sekali salah diterapkan dibanyak perusahaan bahwa software engineer paling jago dijadikan technical, dijadikan manager, padahal itu akan mempengaruhi performancedia.

Ada orang yang tidak begitu bagus sekali, tapi dia bisa, tapi dia punya softskill, karena itu memang otak kiri otak kanan ya pasti ada pros and consnya.

Memang tidak ada yang jago sekali di technical  tapi di softskill juga jago sekali, itu sangat jarang sekali. Nah, makanya didalam perusahaan biasanya dipisah antara itu.

Nah, CTO itu secara itu technical nya karena lebih banyak melakukan posisi strategis. Misalnya tadi, pemilihan teknologi, selanjutnya melakukan riset, dia sendiri melakukan harus hands on ya.

CTO itu tidak hanya management tapi dia memang harus hands on, dia memang harus mencoba teknologi baru, ini ada benefitnya atau tidak untuk perusahaan? dia harus “oh kalau saya menggunakan teknologi seperti ini akan lebih efisien costnya.

Jadi yang dipikirkan selalu cost, bukan hanya teknologi baru. Jadi berhubungan dengan efisien dari sebuah perusahaan.

Apa tantangan yang dihadapi CTO?

Kalau tantangan yang dihadapi lebih ke arah menjelaskan sesuatu hal yang sebenarnya sangat teknis sekali, namun bisa dimengerti oleh orang bisnis atau owner atau stakeholder.

Terkadang jika kita berbicara teknis pasti mereka tidak akan mengerti. Mereka tahunya “ini besok harus selesai”, bagaimana kita komunikasikan bahwa ini sebenarnya tidak akan selesai besok.

Itu sebenarnya tantangan-tantangan yang sering kali dihadapi banyak orang yang di sisi itu. Itulah bagaimana caranya kita menghadapi itu? Yaitu dengan data.

Kita harus mempunyai data. Kalau seorang software engineer apapun yang berhubungan dengan apa yang dikerjakan itu harus ada log misalnya.

Atau kalau seorang CTO, dia harus mempunyai data. Datanya apa? Banyak data yang bisa diambil entah dari mana saja. “oh ini sebenarnya tidak bisa karena ini datanya begini”.

Itulah mengapa kita perlu tools. Misalnya kalau dalam management ditempatkannya pakai JIRA, itu harus ada datanya.

Lalu setiap pekerjaan kita harus ada log, loggingnya. Kenapa? Misalnya contohnya pernah terjadi di tempat kita misalnya ada datang salah satu stakeholder lalu dia marah-marah, ini berhubungan dengan anak buahnya.

Saya bilang “anak buah anda yang nakal”, lalu saya melihat lognya, akhirnya dia mengecek anak buahnya sendiri, memang ternyata ada anak buahnya yang nakal.

Nah, bayangkan kalau kita tidak mempunyai log, tidak punya tools, apa yang terjadi? Semua basisnya adalah asumsi dan akhirnya jadi kurang baik hubungannya.

Dengan adanya data kita lebih objektif dalam menentukan keputusan dan dalam berbicara. Kalau tidak ada data orang tersebut ya tidak bisa bicara.

Tadi disebutkan bahwa ada tools dan aplikasi yang membantu para CTO. Bisa disebutkan tools-tools  yang digunakan oleh CTO?

Dari segi tools kalau untuk sekarang kita lebih banyak menggunakan JIRA. Kalau tools yang lain seperti Kibana.

Kibana itu adalah log aggregator untuk analitik dan lain-lain, jadi semua yang berhubungan dengan server, networking, bahkan dengan transaksi bisa di masukkan ke dalam Kibana.

Dimana databasenya menggunakan elastic, itu custom yang misalnya dibuat khusus untuk bisa mencari data apapun dengan mudah atau membuat sebuah analisis dari suatu itu mudah.

Untuk sementara itu saja, tetapi masih banyak juga pengembangan yang akan dilakukan untuk kedepannya.

Kalau boleh tahu, kenapa lebih menggunakan Jira dan Kibana? Apa alasannya menggunakan aplikasi tersebut?

Alasannya itu common ya, sudah banyak digunakan dimana-mana. Dan saya rasa itu tergantung organisasinya juga.

Misalnya, organisasi yang lebih kecil mungkin dia lebih cocok menggunakan Frelo kalau untuk  managementnya.

Kalau Jira ya karena pluginnya banyak bisa integrasi kemana saja. Kalau Kibana, pertama free, open source, kita bisa menggunakannya, walaupun ada yang berbayar juga, tetapi kadang-kadang tidak perlu memakai yang berbayarnya, lebih karena cost juga.

Kebanyakan saat ini menjadi CTO itu kerjanya remote atau ke kantor, mengikuti jadwal kantor?

Kalau saya setiap hari ke kantor, namun kadang-kadang ada suatu waktu dalam satu minggu, misalnya satu hari saya biasanya melakukan remote working, kenapa?

Untuk fokus biasanya kalau sudah disana biasanya banyak yang datang, minta menjelasan A B C dan lain-lain, dan juga meeting.

Biasanya saya perlu satu hari untuk biasanya riset dan lain-lain, biasanya begitu setiap minggu biasanya satu hari sekali remove

Problem apa yang sering muncul ketika bekerja sebagai CTO?

Yang menjadi challenging adalah sebenarnya soal promise, soal janji. Misalnya kita ada janji 2 hari, kita akan selesai, karena kita bentuknya sprint, sprint 2 minggu, ternyata didalam perjalanannya ada techical of spackle.

Kenapa ini lumayan complicated? Karena misalnya, anggap saja 2 minggu sudah selesai semua, jadi memang kalau kita sprint 2 minggu itu semua kualitasnya sudah baik, sudah deploy dan lain-lain.

Dari sisi produk yang akan ke konsumen ataupun akan melaunching sebuah produk, itu kan dia sudah menunggu selama 2 minggu.

Dan dalam perjalanannya pun sebenarnya sudah kita komunikasikan, hanya saja orang yang bertanggung jawab di departemen itu, dia juga dikerjar target oleh CEOnya.

Contohnya sekarang tanggal 1, tanggal 14 dia harus launching tetapi perjalanannya awalnya ok dari tech team segala macam, dan perjalanannya itu ada technical of spackle, technical problem, mengakibatkan waktu mundur sedangkan dia sudah janji dengan CEO.

Disinilah perlu kadang-kadang kita harus meeting, kita harus duduk bersama lagi untuk menjelaskan kenapa tidak bisa launching, atau misalnya sebagian saja yang mungkin bisa launching.

Nah, ini yang sering terjadi. Tetapi itu jarang sekali, bisa terjadi mungkin. Itu yang paling sulit bisanya kalau sudah ada. Karena disini diusahakan task itu dibagi paling kecil.

Jadi, developer itu bukan ditentukan misalnya hari senin kerjakan ini, selasa kerjakan ini, tetapi didalam sprint itu sudah ditentukan setelah itu mengerjakan apa, mereka bebas mengambil yang mana saja untuk dikerjakan terlebih dahulu.

Misalnya mengerjakan yang mudah dahulu, baru yang susah.

Dari segi pribadi, range rata-rata gaji seorang CTO itu berapa? Ada jenjangnya juga atau bagaimana?

Sebenarnya kalau dilihat dari CTO itu, bisa dilihat dari perusahaannya juga. Kebetulan perusahaan saya yang tidak terlalu besar sekali, itu rangenya bisa mulai dari 30 sampai mungkin diatas 100 tergantung dari perusahaannya. Tapi minimal sekitar segitu.

Apakah menjadi CTO wajib kuliah jurusan IT?

Sebenarnya dilihat dari jenjang ya. Sebenarnya kuliah S-1 tetapi yang penting itu skill. Jadi, kita harus punya technical skill dan memang bisa tapi jangan lupa softskill.

Kebetulan saya adalah foundernya “Sobat Architec Indonesia Community” juga, salah satu co-foundernya. Sebanarnya saya mengurus komunitas sekitar 2 tahun, kita banyak melakukan event dan banyak lainnya.

Sebenarnya itu tujuan mengikuti komunitas untuk melatih softskill. Jadi kita berbicara didepan orang, negosiasi, kita menghubungi orang, kita menghubungkan antar orang, itu kan softskill yang kita tidak bisa pelajari ketika kita bekerja.

Bisa diceritakan pengalaman menjadi CTO dan pengalaman yang susah sekali lalu tiba-tiba mendapatkan solusinya. Ada tidak?

Sebenarnya pengalaman paling susah ketika saya datang ke Moladin dan dua CTO yang sebelumnya keluar.

Jadi, yang dibilang legacy paling sulit adalah ketika kita datang ke sebuah perusahaan dan itu banyak meninggalkan yang namanya legacy program dan itu banyak bugnya, itu yang paling sulit.

Kita mau rewrite, tulis ulang, tidak mungkin. Ya kita memperbaiki dulu yang ada sampai bisnis itu bisa menerima baru kita bikin yang baru. Jadi itu yang paling sulit, kecuali kalau dari awal kita yang bikin, itu tidak sulit, karena kita yang tentukan.

Tetapi kalau sudah berjalan satu tahun, dan sebelum-sebelumnya keluar karena terjadi masalah di managemen sendiri, itulah yang sulit, dan negosiasi dengan managemen, karena membenahi managemen yang  ada itu luar biasa challengingnya.

Mungkin nanti ada berantemnya, ada debatnya juga yang mungkin debatnya bisa setiap hari. Lebih banyak debatnya dari pada mengerjakan pekerjaannya, tapi sekarang sudah tidak begitu.

Karena sebelum dikerjakan harus didebatkan terlebih dahulu bahwa sudah setuju dengan apa yang akan dikerjakan, jangan sampai nanti sedang dikerjakan tetapi tidak sesuai ekspektasi.

Ada saran tidak untuk para CTO di luar sana yang sedang mengerjakan  project tetapi buntu?

Saya sebenarnya juga masih belajar. Mungkin saran saya bisa gabung dengan komunitas. Kebetulan komunitas saya banyak yang sesama CTO, ada yang divisi engineering, ada yang dari perusahaan – perusahaan besar itu banyak.

Jadi kita banyak belajar juga dari mereka, sering bertanya mengenai suatu problem. Jadi saran saya ya bergabung dengan komunitas. Karena komunitas IT di Indonesia banyak, dan itu salah satunya membangun networking.

Tidak ada cara lain menurut saya, itu salah satunya membangun networking. Karena tidak mungkin langsung bertanya kepada orang lain yang kita tidak kenal. Tapi kalau di komunitas barunya semua orang levelnya sama.

Temen-temen juga bisa follow di Instagram kita di @sarccom. Kita juga ada meetup.com kalau mau ikut event kita tiap bulannya. Jadi kalau bisa di kasih tau ke teman-teman, jadi dengan bergabung ke komunitas itu akan mempercepat skill kita juga, bisa memboosh skill kita.

Kadang-kadang teman-teman malas datang, padahal kalau saya prinsipnya “kata Imam Syafi’i, kalau kita malas belajar, kita merasa belajar itu capek, nanti rasakan perihnya kebodohan. Jadi never stop learning

Seandainya kalau bisa kembali ke masa kuliah, masa belajar, training, atau kursus dulu, keahlian dalam CTO ini apasih yang diharapkan lebih dikuasai dan apa alasannya?

Sebenarnya kalau saya pribadi dari dulu itu saya tidak pernah menolak pekerjaan. Misalnya ada pekerjaan yang tidak sesuai dengan jobdesk atau gaji, sebenarnya itulah yang membatasi kita.

Sebenarnya apapun kerjaannya dikerjakan, kita itu tidak akan tau, seperti sebuah puzzle. Puzzle itu maksudnya begini, jadi semacam sebuah puzzle yang nantinya akan terbentuk dengan sempurna.

Jadi ilmu itu seperti serpihan semen. Saya pernah ada satu cerita saya menyesal sekali zaman dulu itu saya tidak belajar accounting, karena saya benci dengan namanya accounting waktu SMA.

Ternyata itu digunakan waktu saya menjadi software engineer mengenai pengetahuan itu. Bayangkan saya tahu itu mungkin saya dapat mengerjakan itu dengan baik, tetapi karena saya tidak tahu ilmunya, karena saya malas, karena kesal, itu impactnya sekarang dan saya menyesal.

Makanya saya selalu bilang, ilmu apapun dipelajari dengan baik. Jadi kadang-kadang kalau kita menginginkan sesuatu hal yang kita sukai, kita harus mengerjakan apa-apa yang tidak kita sukai dulu.

Jadi, kalau mau flashback balik ya saya ingin bisa belajar apapun dengan baik, mengerjakan suatu hal dengan bersungguh-sungguh. Tetapi karena memang pada dasarnya manusia itu kalau tidak “kepentok” biasanya baru belajar.

Ataupun biasanya kalau besok mau ujian baru belajar “sistem kebut semalam”. Padahal sebenarnya suatu hal itu yang kita dapatkan dengan iterasi bukan dengan sistem magic yang satu malam sudah bisa.

Pelajaran apa yang diharapkan ada dikampus untuk bisa membantu profesi para CTO ini?

Sebenarnya kalau saya bilang sendiri prosesnya cukup panjang, jadi pengalaman. Jadi kita tidak bisa belajar dari sekolah, tapi yang saya sarankan adalah sebagai seorang software  engineer sekarang ini, softskill itu harus, kenapa dengan softskill?

Artinya kita bisa meminimalisasi waktu  untuk kita belajar. Jadi misalnya dengan kita bersosialisasi yang harusnya pekerjaan itu bisa 1 hari, kita bisa selesaikan dalam waktu setengah jam.

Jadi bedanya orang yang expert dan orang yang biasa saja mungkin jika diberikan satu task yang sama dalam satu minggu, orang yang expert bisa menyelesaikan setengah jam, karena dia sudah tau dengan skill.

Bagaimana kita melatih skill itu adalah dengan berkomunikasi dengan orang-orang yang memang mempunyai ilmunya, jangan berkutat sendiri dan merasa paling jago atau ego.

Lalu jika diberi masukan oleh orang lain marah, padahal kita itu harus open mind. Diatas langit masih ada langit, bahwa kita semua disini selalu belajar, bukan hanya merasa yang paling jago.

Pak Buyung sendiri, keahlian apa yang masih kurang yang ingin dikuasai?

Sebenarnya at the end saya ingin bisa mengembangkan bisnis sendiri. Ini sedang tahap proses, artinya masih banyak yang harus dipelajari lagi, karena ketika ingin membuat bisnis sendiri itu bukan soal technical ataupun hanya tentang softskill, tetapi banyak.

Misalnya tentang accounting, pajak, tentang bagaimana bernegosiasi bisnis, itu masih banyak sekali yang masih harus dipelajari.

Karena kalau dari saya sendiri , misalnya sampe sekarang pun masih ada kekurangan misalnya harus komunikasi dengan orang baru atau komunitas seperti orang-orang bisnis dimana kita harus berkomunikasi bersama mereka langsung perkenalan.

Nah itu kadang – kadang masih ada rasa “bagaimana ya mulai berbicara?”, itu saya masih berlatih.

Apakah kerja CTO memiliki partner atau tim?

Saya memiliki tim

Apakah bisa, jika memilih tim atau partner kerja , disebutkan 3 keahlian yang diharapkan dan dikuasai oleh partnernya?

Kalau secara team lead pertama harus softskill, komunikasi. Yang kedua, technical skill memang harus mumpuni maksudnya harus mau “mengoprek” artinya mau mengejar sesuatu.

Jadi kalau saya bilang ke teman-teman adalah pertama orang yang mau belajar soal softskill, komunikasi. Yang kedua itu mau ngoprek atau gigih yang ketiga, selalu fokus sama goal.

Misalnya  saya mempunyai sebuah goal, senin harus launch, ternyata ada technical of spackle sampai hari jumat, hampir tidak selesai, dan menunda pekerjaan karena besok adalah weekend,

sampai pada akhirnya terjadi demotivasi dan pekerjaan tidak akan selesai karena tidak fokus melihat goal pada hari senin.

Jadi yang pertama adalah komunikasi, yang kedua adalah tentang gigih atau suka ngoprek ya yang ketiga harus selalu fokus melihat goal.

Karena itu saja untuk menjadi technical skill sebenarnya bisa dipelajari asalkan sudah memiliki basic yang lumayan bagus. Yang paling saya tekankan adalah nomor 1 yaitu komunikasi, karena komunikasi itu memangkas banyak hal.

Adakah sisi lain dari seorang pak buyung, selain bekerja sebagai CTO, mungkin hobi travelling, yoga, atau touring naik motor, ada atau tidak?

Hobi saya bersosialisasi, saya bagian dari kepengurusan architect bagian dari pengurus musholla, intinya saya juga membangun komunitas yaitu komunitas yang berhubungan dengan IT.

Jadi memang banyak berhubungan dengan sosial. Terakhir kali pada conference internasional yang terlaksana bulan Oktober 2018, kita menyelenggarakan software architecture conference 2018.

Bagi sebagian orang yang bilang ke kami itu mustahil, karena kami juga kerja, bagaimana kita dapat mengerjakannya? Terlebih sudah memiliki keluarga, anak 3, bagaimana cara membagi waktunya?

Caranya dengan kita asah skill  kita menjadi lebih efektif dan tidak mengorbankan tempat bekerja kita, karena rezekinya disitu, jadi saya tidak boleh mengecewakan mereka.

Jadi ya semua harus disusun dengan baik, tapi lebih ke arah kenapa saya mau jalur sosial sebagai pengurus architect, sebagai pengurus musholla, sebagai pengurus komunitas.

Kenapa? Karena sebaik-baiknya manusia adalah yang dapat bermanfaat.

Nanti dilain kesempatan kita undang untuk jadi pembicara workshop di tempat kami apakah pak Buyung bersedia?

Boleh saja, asal topiknya sesuai.

Tadi komunitasnya apa ya?

Sarccom bisa dicari di google. Dan juga ada Instagramnya @sarccom, bisa difollow. Kita banyak kegiatan yang free, dan kita mendatangkan orang-orang yang expert di bidangnya. Jadi bisa banyak belajar dan berkomunikasi dan juga kenalan.


Jika anda ingin bertanya dengan Buyung Bahari. Silahkan input pertanyaan anda pada kolom di bawah

Share.

About Author

Buyung Bahari

CTO at Moladin & Co-Founder and Organizer at Software Architect Indonesia Community

Tanya Sesuatu Pada Narasumber & Komentar