Memahami Sistem Operasi Berbasis Android Di Dunia Teknologi

0

Daftar Isi :

  • Definisi Pemrograman Android
  • Sejarah Sistem Operasi Android
  • Platform Sistem Android
  • Dasar Pengembangan Android
  • Activities
  • Services
  • Content Provider
  • Broadcast Receiver
  • Fitur Pada Sistem Operasi Android
  • Interface
  • Application
  • Memory Management

Definisi Pemgrograman Android

Android adalah Sistem Operasi Mobile yang didasarkan pada versi modifikasi dari kernel Linux dan Software open source lainnya, yang dirancang terutama untuk device mobile touchscreen seperti smartphone dan tablet.

Android dikembangkan oleh konsorsium pengembang yang dikenal sebagai Open Handset Alliance, dengan kontributor utama dan pemasar komersialnya Google

Dipelopori oleh Android Inc., yang dibeli Google pada 2005, Android diluncurkan pada tahun 2007 dengan perangkat Android komersial pertama diluncurkan pada September 2008. Versi stabil saat ini adalah Android 10 yang  dirilis pada 3 September 2019.

Inti dari Source Code Android dikenal sebagai Android Open Source Project (AOSP), yang terutama dilisensikan di bawah Lisensi Apache. Ini memungkinkan varian Android dikembangkan di berbagai elektronik lainnya, seperti konsol game, kamera digital, PC, dan lainnya, tentunya dengan Desain User Interface yang berbeda-beda.  

Beberapa turunan terkenal termasuk TV Android untuk televisi dan Wear OS untuk perangkat yang dapat dipakai, keduanya dikembangkan oleh Google.

Source Code Android telah digunakan sebagai dasar dari ekosistem yang berbeda, terutama dari Google yang terkait dengan serangkaian software berpemilik yang disebut Google Mobile Services (GMS), Dimana didalamnya terdapat aplikasi seperti Gmail, Google Play dan Google Play Services, dan browser web Google Chrome.

Aplikasi ini dilisensikan oleh produsen perangkat Android yang disertifikasi berdasarkan standar yang diberlakukan oleh Google.

Ekosistem Android lain yang bersaing dengan Google meliputi Fire OS atau LineageOS dari Amazon.com. Distribusi perangkat lunak umumnya ditawarkan melalui toko aplikasi berpemilik seperti Google Play Store atau Samsung Galaxy Store, atau platform open source seperti Aptoide atau F-Droid, yang menggunakan paket software dalam format APK.

Android telah menjadi OS terlaris di seluruh dunia pada bidang Smartphone sejak 2011 dan pada tablet sejak 2013. Hingga Mei 2017, ia memiliki lebih dari dua miliar pengguna aktif setiap bulannya, basis instalasi terbesar dari semua sistem operasi, dan pada Januari 2020, Google Play Store menampilkan lebih dari 2,9 juta aplikasi yang bisa diunduh.

Sejarah Sistem Operasi Android

Sebelum dimiliki oleh Google, Android sendiri adalah sistem operasi yang dikembangkan oleh perusahaan bernama Android, Inc. yang didirikan di Palo Alto, California pada bulan Oktober 2003 oleh Andy Rubin, Rich Miner, Nick Sears, dan Chris White.

Pada Juli 2005, Google mengakuisisi Android Inc. setidaknya $ 50 juta Dollar AS. Karyawan utamanya, termasuk Rubin, Miner dan White bergabung dengan Google sebagai bagian dari akuisisi tersebut. Tidak banyak yang diketahui tentang Android pada saat itu, perusahaan ini hanya mengklaim membuat software untuk perangkant seluler saja.

Di Google, tim yang dipimpin oleh Rubin mengembangkan platform perangkat seluler yang ditenagai oleh kernel Linux. Google memasarkan platform ini ke pembuat dan operator handset dengan janji menyediakan sistem yang fleksibel dan dapat diupgrade

.

Pada 5 November 2007, dirilislah sistem operasi pertama Android dengan ditandai juga didirikannya Open Handset Allience (OHA) yang tidak lain dan tidak bukan adalah bekerja untuk melakukan pengembangan standar terbuka bagi perangkat seluler.

Di tahun 2008, akhirnya dirilislah HTC Dream (T-Mobile G1), HP pertama yang menggunakan sistem operasi Android.

Platform Sistem Operasi Android

Banyak yang mengira bahwa sistem operasi Android dengan sistem operasi yang ada pada desktop. Padahal kenyataannya tidak, Sistem Operasi Android yakni berbasis Layered Environtment, yakni dibangun diatas Kernel Linux yang kaya akan fungsionalitas.

Sub-system User Interfacenya meliputi elemen-elemen seperti Windows, views, dan widget yang digunakan untuk menampilkan fitur edit box, list, atau drop-down list.

Dalam dekade terakhir, web seluler telah diubah oleh adopsi smartphone di seluruh aplikasi berbasis konsumen dan bisnis, termasuk Android. Teknologi web “Responsive” telah membuat utilitas pada perangkat seluler sangat ditingkatkan dan mampu beradaptasi di berbagai ukuran layar mobile device.

Layer Software Android

  • Application : Built-in Application seperti telepon, contacts, browser, dan lainnya. Aplikasi spesifik bervariasi menurut versi Android dan pabrikan. Aplikasi komersial dari pasar seperti Google Play, Amazon, dan lainnya. Aplikasi yang dimuat di samping termasuk yang akan kamu buat dan diinstall melalui kabel USB.
  • Application Framework : seperti manajer telepon, manajer lokasi, manajer notifikasi, penyedia konten, windowing, Resource manager, dan masih  banyak lagi.
  • Library : Graphics Library, Media Library, Database Library, Sensor, dan sebagainya.
  • Android runtime bertanggung jawab untuk menjalankan dan mengelola aplikasi saat dijalankan.
  • Kernel Linux : Meliputi power, sistem file, driver, manajemen proses, dan masih banyak lagi.

Dasar Pengembangan Android

Terlepas dari bagaimana aplikasi dapat dikonversi dari Source Code ke Running Code. Dari perspektif pemrograman, ada beberapa dasar untuk dipahami ketika kamu mulai mengembangkan aplikasi android kamu sendiri.

Aplikasi Android memiliki empat klasifikasi dasar sebagai berikut:

Activities

Aplikasi tentunya memiliki User Interface yang terlihat dan diimplementasikan melalui suatu aktivitas. Saat kamu memilih aplikasi dari layar Home atau Launcher aplikasi, disinilah suatu aktivitas dimulai

Services

Kamu bisa menggunakan pengaturan atau setting yang ada pada aplikasi smartphone kamu seperti Network Monitor, Update checking application, Atau manajemen Notifikasi. Setiap aplikasi wajib memiliki Service atau layanan untuk mengatur fitur tertentu pada smartphone.

Service juga merupakan komponen yang berjalan di latar belakang. Sebagai contoh, Service bisa memainkan musik di latar belakang saat pengguna berada dalam aplikasi yang berbeda, atau mungkin mengambil data melalui jaringan tanpa menghalangi interaksi pengguna dengan aktivitas.

Content Provider

Content Provider adalah penyedia konten dari satu aplikasi ke aplikasi lain atas perintah tertentu. Perintah tersebut ditangani oleh sebuah method dari class ContentResolver. Data dapat disimpan dalam sistem file, database atau di tempat lainnya.

Content Provider diimplementasikan sebagai subclass dari class ContentProvider dan harus menerapkan satu set standar API yang memungkinkan aplikasi lain untuk melakukan transaksi.

Broadcast Receiver

Broadcast Receiver berfungsi menerima pesan intent dari aplikasi lain atau dari sistem. Sebagai contoh, suatu aplikasi mengirim pesan berisi perintah tertentu untuk aplikasi lain bahwa beberapa data telah diunduh ke perangkat dan tersedia bagi mereka untuk menggunakan apklikasi tersebut.

Jadi Broadcast Receiver inilah yang akan menangani komunikasi ini dan akan melakukan tindakan yang tepat.Sebuah Broadcast Receiver diimplementasikan sebagai subclass dari class BroadcastReceiver dan setiap pesan akan dikirim dan diterima sebagai objek Intent.

Aplikasi Android digunakan untuk perangkat mobile bersamaan dengan file bernama AndroidManifest.xml. File ini diperlukan untuk setiap aplikasi Android dan pada dasarnya berfungsi sebagai lembar contekan yang memberi tahu sistem operasi bagaimana cara berinteraksi dengan aplikasi kamu.

AndroidManifest.xml mencakup nama kelas dan jenis event yang diperlukan yang dapat diproses oleh aplikasi serta izin yang diperlukan yang harus dijalankan oleh aplikasi. Misalnya, jika aplikasi memerlukan akses ke jaringan untuk mengunduh file, izin ini harus secara eksplisit dinyatakan dalam file manifest.

Atau, mungkin aplikasi perlu mengakses kamera. Pengguna harus menyetujuinya juga. Pendekatan deklaratif ini memberi tahu pengguna apa yang akan digunakan oleh aplikasi adalah penting dalam hal meningkatkan masalah privasi dan keamanan.

Sayangnya masih banyak yang mengabaikan hal ini, padahal nyatanya penting bagi kamu untuk memperhatikan dengan cermat apa yang diminta untuk diakses oleh suatu aplikasi.

Fitur Pada Sistem Operasi Android

Interface

Antarmuka pengguna pada Android didasarkan pada metode Direct Manipulation atau manipulasi langsung, menggunakan sentuhan yang serupa dengan tindakan di dunia nyata, misalnya menggesek (swiping), mengetuk (tapping), dan mencubit (pinching), untuk memanipulasi objek di layar.

Ketika dihidupkan, perangkat Android akan memuat layar home, yakni navigasi utama dan pusat informasi pada perangkat, serupa dengan desktop pada komputer pribadi. Layar depan Android biasanya terdiri dari ikon aplikasi dan widget;

ikon aplikasi berfungsi untuk menjalankan aplikasi terkait, sedangkan widget menampilkan konten secara langsung dan diperbarui secara otomatis, misalnya prakiraan cuaca, kotak masuk email pegguna, atau menampilkan berita yang sedang trending.

Di bagian atas layar terdapat status bar, yang menampilkan informasi tentang perangkat dan konektivitasnya. Status bar ini bisa “ditarik” ke bawah untuk membuka layar notifikasi yang menampilkan informasi penting atau pembaruan aplikasi, misalnya Email atau SMS masuk, dengan cara tidak mengganggu kegiatan pengguna pada perangkat.

Pada versi awal Android, layar notifikasi ini bisa digunakan untuk membuka aplikasi yang relevan. Namun, setelah diperbarui, fungsi ini semakin disempurnakan, misalnya kemampuan untuk memanggil kembali nomor telepon dari notifikasi panggilan tak terjawab tanpa harus membuka aplikasi utama.

Notifikasi ini akan tetap ada sampai pengguna melihatnya, atau dihapus dan di nonaktifkan oleh pengguna.

Application

Android memungkinkan penggunanya untuk memasang aplikasi pihak ketiga, baik yang diperoleh dari toko aplikasi seperti Google Play, Amazon Appstore, ataupun dengan mengunduh dan memasang berkas APK dari situs pihak ketiga.

Di Google Play, pengguna bisa menjelajah, mengunduh, dan memperbarui aplikasi yang diterbitkan oleh Google dan pengembang pihak ketiga, sesuai dengan persyaratan kompatibilitas Google

Google Play akan menyaring daftar aplikasi yang tersedia berdasarkan kompatibilitasnya dengan perangkat pengguna, dan pengembang dapat membatasi aplikasi ciptaan mereka bagi operator atau negara tertentu untuk alasan bisnis.

Pembelian aplikasi yang tidak sesuai dengan keinginan pengguna dapat dikembalikan dalam waktu 15 menit setelah pengunduhan. Beberapa operator seluler juga menawarkan tagihan langsung untuk pembelian aplikasi di Google Play dengan cara menambahkan harga pembelian aplikasi pada tagihan bulanan pengguna.

Pada bulan September 2012, ada lebih dari 675.000 aplikasi yang tersedia untuk Android, dan perkiraan jumlah aplikasi yang diunduh dari Play Store adalah 25 miliar.

Aplikasi Android dikembangkan dalam bahasa pemrograman Java dengan menggunakan System Development Kit (SDK). SDK ini terdiri dari seperangkat perkakas pengembangan, termasuk debugger, software library, emulator handset yang berbasis QEMU, dokumentasi, Sample Code, dan tutorial.

Didukung secara resmi oleh Interactive Digital Environment (IDE) Eclipse, yang menggunakan plugin Android Development Tools (ADT). Perkakas pengembangan lain yang tersedia di antaranya adalah Native Development Kit untuk aplikasi atau ekstensi dalam C atau C++, Google App Inventor, Visual environtment untuk programer pemula, dan berbagai framework aplikasi web seluler cross platform.

Memory Management

Karena perangkat Android umumnya bertenaga baterai, Android dirancang untuk mengelola memori (RAM) guna menjaga konsumsi daya minimal, berbeda dengan sistem operasi desktop yang bisa terhubung pada sumber daya listrik tak terbatas.

Ketika sebuah aplikasi Android tidak lagi digunakan, sistem secara otomatis akan menangguhkannya (suspend) dalam memori – secara teknis aplikasi tersebut masih “terbuka”, jika ditangguhkan maka aplikasi tidak akan mengonsumsi sumber daya (misalnya daya baterai atau daya pemrosesan), dan akan “diam” di latar belakang hingga aplikasi tersebut digunakan kembali.

Cara ini memiliki manfaat ganda, tidak hanya meningkatkan respon perangkat Android karena aplikasi tidak perlu ditutup dan dibuka kembali dari awal setiap saat, tetapi juga memastikan bahwa aplikasi yang berjalan di latar belakang tidak menghabiskan daya secara sia-sia

Android mengelola aplikasi yang tersimpan di memori secara otomatis: ketika memori lemah, sistem akan menonaktifkan aplikasi dan proses yang tidak aktif untuk sementara waktu, aplikasi akan dinonaktifkan dalam urutan terbalik, dimulai dari yang terakhir digunakan.

Proses ini tidak terlihat oleh pengguna, jadi pengguna tidak perlu mengelola memori atau menonaktifkan aplikasi secara manual. Namun, kebingungan pengguna atas pengelolaan memori pada Android telah menyebabkan munculnya beberapa aplikasi task killer pihak ketiga yang populer di Google Play

Kesimpulan

Artikel ini berfungsi sebagai pengantar untuk Android dari tingkat dasarnya saja, termasuk struktur dasar ataupun platform untuk membuat kamu bersemangat menjelajahi lebih banyak platform Android. Android telah berubah dari pemain pasar menjadi kekuatan dominan dalam waktu yang relatif singkat. Pada artikel selanjutnya kita akan membahas lebih dalam mengenai Sistem operasi Android

Sumber : developer.ibm.com

Pertanyaan Terkait :

  • Cara membuat aplikasi Android dengan mudah
  • Program yang digunakan untuk membangun aplikasi android
  • Cara Install Android Studio
  • Widget pada Android Studio
  • Cara Install dan Setting Java SDK
Share.

About Author

Techfor Id

Leave A Reply