Startup

Ini Dia Yang Dinamakan Bisnis Startup. Apakah Bisnis Anda Termasuk?

Mungkin kamu sering mendengar atau membaca mengenai bisnis startup yang berhasil mendapatkan pendapatan luar biasa hanya dalam beberapa tahun.

Membaca berita itu saja bisa membuat setiap orang tertarik untuk membuat usaha sendiri. Tapi apakah semua bisnis startup itu bisa mengikuti perusahaan seperti itu?

Belum tentu. Ada beberapa hal yang mesti kamu ketahui sebelum terjun ke sebuah bisnis startup.

Kamu bisa dengarkan wawancara tim Techfor.id dengan Rifki Pratomo , CEO Andalin dengan klik tombol play di bawah ini .

Tapi yang paling penting kamu perlu memahami dahulu tentang bisnis startup, apa itu bisnis startup?

Nah, di tulisan ini, saya Rifki Pratomo, akan mencoba mengulas sedikit mengenai apa itu perusahaan startup. Saya akan mencoba memberikan gambaran tentang startup dan juga membagi pengalaman saya sebagai pendiri salah satu perusahaan startup di Indonesia.

Pengertian Bisnis Startup

Startup atau start-up dimulai oleh pendiri atau pengusaha perorangan untuk mencari model bisnis yang berulang dan terukur. Lebih khusus, startup adalah usaha bisnis yang baru muncul, yang bertujuan untuk mengembangkan model bisnis yang layak untuk memenuhi kebutuhan atau masalah pasar. Baca juga artikel Bisnismu Tidak Lancar? Jangan-Jangan Kamu Belum Benahi 3 Hal Ini.

Pada intinya, perusahaan startup itu adalah perusahaan yang baru mulai/ baru didirikan dan tidak melulu harus bergerak di bidang teknologi.

Pendiri mendesain startup untuk secara efektif mengembangkan dan memvalidasi model bisnis yang scalable atau bisa berkembang. Konsep startup dan kewirausahaan itu serupa. Namun, kewirausahaan merujuk semua bisnis baru, termasuk wirausaha dan bisnis yang tidak pernah berniat untuk tumbuh besar atau menjadi terdaftar.

Sementara startup mengacu pada bisnis baru yang berniat untuk tumbuh, tidak hanya dijalankan oleh satu orang tapi juga memiliki karyawan, dan berniat untuk tumbuh besar.

Sebuah perusahaan baru tentunya akan menghadapi ketidakpastian yang tinggi dan juga memiliki tingkat kegagalan yang tinggi, tetapi minoritas yang mencapai kesuksesan akan memiliki potensi untuk menjadi lebih besar dan berpengaruh.

Inilah yang kita sering dengar kata startup unicorn.

Beberapa startup yang menjadi unicorn memiliki nilai hingga miliaran dollar. Berdasarkan situs Wikipedia bahwa TechCrunch melaporkan ada sekitar 279 startup unicorn pada Maret 2018. Sebagian besar unicorn itu berlokasi di Tiongkok, diikuti oleh Amerika Serikat.

Unicorn terbesar yang didirikan hingga Oktober 2018, antara lain Ant Financial, ByteDance, Didi Chuxing, Uber, Xiaomi, dan Airbnb.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Apakah ada perusahaan startup unicorn di Indonesia?

Jawabannya ada. Siapa yang tak kenal Go-Jek? Inilah salah satu perusahaan startup unicorn dari Indonesia. Menurut salah satu pendiri startup di Indonesia bahwa negara Indonesia ini tergolong first wave atau gelombang pertama.

Jika kita lihat contoh – contoh perusahaan startup di atas, mereka bergerak di bidang teknologi. Lalu apakah kamu harus mendirikan perusahaan teknologi juga jika ingin mendirikan startup?

Tentu saja tidak.

Memulai bisnis startup itu tak harus bergerak di bidang teknologi. Misalkan kamu mendirikan sebuah usaha pembuatan ember juga bisa dikatakan startup. Tapi akan lebih baik jika seiring pertumbuhan usaha, kamu bisa menggabungkan dengan teknologi agar bisa memperoleh efisiensi.

apa itu bisnis startup

Startup biasanya dimulai oleh seorang pendiri (solo-founder) atau bersama co-founder yang memiliki cara untuk menyelesaikan masalah yang muncul di masyarakat. Pendiri startup akan memulai validasi pasar dengan wawancara masalah, wawancara solusi, dan kemudian membangun produk yang layak minimum, yaitu prototype, untuk mengembangkan dan memvalidasi model bisnis.

Perkembangan sebuah startup itu tidak sebentar, dapat memakan waktu yang lama dan karenanya diperlukan upaya berkelanjutan. Namun upaya mempertahankan dalam jangka panjang juga sangat menantang karena adanya tingkat kegagalan yang tinggi dan hasil yang tidak pasti.

Berdasarkan wawancara Babastudio dengan salah satu pendiri startup di Indonesia, ada 2 hal yang mesti kamu perhatikan jika ingin mendirikan sebuah bisnis startup.

  1. Jika kamu mendirikan startup, jangan hanya mengejar penghasilannya. Don’t do it for the money. Buatlah sebuah bidang usaha yang stabil dan jangan buat produk yang tak perlu dibuat atau tak dibutuhkan oleh siapapun.
  2. Jangan hanya mengikuti tren. Contoh: aplikasi Go-Jek sedang tren dan kamu ingin mendirikan startup dengan bidang usaha yang persis sama. Jika demikian, ada kemungkinan kamu akan gagal.

Mungkin beberapa tahun lalu kamu juga pernah mendengar beberapa aplikasi di Indonesia yang bergerak di bidang sama dengan Go-Jek dan kini kita tak mendengar keberadaan perusahaan-perusahaan itu.

Jangan mengikuti apa yang sudah menjadi booming, apalagi mengikuti perusahaan startup unicorn.

Tempat Kursus Komputer Terbaik | Digital Marketing, Programming, SEO, Dll.

Founder dan Co-Founder

flow startup bisnis
Startup of business mind map illustration

Founder atau (Co) founder adalah orang -orang yang terlibat dalam peluncuran awal perusahaan startup. Siapa pun dapat menjadi co-founder, dan perusahaan yang sudah ada juga dapat menjadi co-founder, tetapi co-founder yang paling umum adalah pendiri-CEO, engineer, peretas, pengembang web, desainer web, dan lain – lain yang terlibat di tingkat dasar atas sesuatu yang baru, yang sering menjelajah.

Pendiri yang bertanggung jawab atas keseluruhan strategi startup memainkan peran sebagai pendiri-CEO, seperti halnya CEO di perusahaan-perusahaan mapan.

Hubungan antara founder dan co-founder dari sisi internal perusahaan startup, yakni:

1. Founder harus paham bidang usaha.

2. Co-founder harus bisa saling melengkapi dengan founder.

Jika kedua hal itu sudah diselaraskan dengan baik maka perusahaan startup bisa berjalan cukup baik.

Tindakan Dalam Menjalankan Startup

Seperti sudah dikatakan di atas bahwa startup itu bisa diartikan memulai usaha. Seperti ilmu desain yang menggunakan prinsip – prinsip desain yang merupakan seperangkat ide dan proposisi normatif yang koheren, ini juga bisa digunakan untuk merancang dan membangun startup. Misalnya, salah satu prinsip desain awal yang berlaku adalah affordable loss atau “kerugian yang terjangkau”.

Lebih baik, terlebih dahulu membuat sesuatu yang ‘must-have’ untuk sejumlah kecil pengguna (pengadopsi awal) daripada sekadar bagus untuk sejumlah besar pengguna. Adalah jauh lebih mudah untuk mendapatkan lebih banyak pengguna daripada beralih dari “sekadar” ke “harus-dimiliki”.

Karena kurangnya informasi, ketidakpastian yang tinggi, kebutuhan untuk mengambil keputusan dengan cepat, pendiri startup menggunakan banyak heuristic dan menunjukkan tindakan bias dalam mengambil keputusan dalam bisnis startup mereka.

Bias dan heuristic adalah bagian dari alat kognitif kita dalam proses pengambilan keputusan, dan mereka membantu kita mengambil keputusan secepat mungkin di bawah ketidakpastian, tetapi kadang-kadang menjadi salah dan keliru.

Pengusaha sering menjadi tidak hanya terlalu percaya diri tentang startup mereka tetapi juga tentang pengaruh kepribadian mereka pada suatu hasil (kasus ilusi kontrol).

Pengusaha cenderung percaya bahwa mereka memiliki lebih banyak tingkat kontrol yang mereka miliki atas peristiwa, mengabaikan peran keberuntungan. Di bawah ini adalah beberapa keputusan bias paling penting dari wirausahawan dalam memulai bisnis baru.

  • Overconfidence: Merasakan kepastian subyektif lebih tinggi dari akurasi objektif.
  • Ilusi kontrol: Terlalu menekankan seberapa banyak keterampilan, alih-alih kesempatan, meningkatkan kinerja.
  • The law of small numbers: Raih kesimpulan tentang populasi yang lebih besar menggunakan sampel terbatas.
  • Availability bias: Membuat penilaian tentang probabilitas kejadian berdasarkan seberapa mudahnya untuk memikirkan contoh.
  • Meningkatnya komitmen: Tetap bertahan dengan inisiatif atau tindakan yang gagal.

Startup menggunakan sejumlah prinsip tindakan (lean startup) untuk menghasilkan bukti secepat mungkin untuk mengurangi efek negatif dari bias keputusan seperti eskalasi komitmen, terlalu percaya diri, dan ilusi kontrol.

Untuk mendapatkan semacam pengecekan realitas, banyak pengusaha mencari umpan balik dari mentor dalam menciptakan startup mereka. Mentor membimbing para pendiri dan memberikan keterampilan wirausaha agar dapat meningkatkan kemampuan diri pada wirausahawan yang baru lahir.

Bisnis startup itu sama seperti bisnis yang sudah lama berjalan, keduanya punya siklus hidup.

Jika kamu akan atau baru menjalankan sebuah bisnis startup maka kamu perlu tahu tentang siklus yang satu ini. Ini bisa menjadi sebuah pengetahuan yang sangat berharga.

About the author

Rifki Pratomo - CEO Andalin

Co Founder & CEO at Andalin.com
Award:
Grand Prize at Tech in Asia Jakarta Arena Pitch Battle
1st Place Winner of Intro. To Business - Business Plan Competition Fall 2007
Winner of Business Communication Class Annual Competition Spring 2009
1st Place Winner of Entrepreneurship Business Plan Competition Fall 2009
Her Highness Sheikha Mozah bint Nasser Al Missned (Queen of Qatar) Merit Scholarship recipient

1 Comment

Leave a Comment

Click to ask
Hai, Tanya-Tanya Aja
Hi ini Windy, dari techfor

Windy bisa membantu kamu memahami layanan Techfor
Seperti

1. Kursus Online By Expert
2. Partnership Event dan Konten
3. Layanan liputan multimedia
4. Dan hal lain yg ingin kamu tau

Kirim saja pesan ini serta berikan salah satu nomor diatas atau beritahukan windy lebih jelas agar dapat membantu Kamu