Danny Purnomo, CEO Brilio.net Sukses Tanpa Lulus Kuliah

0

Kesempatan itu tidak datang dua kali. Mungkin itu yang ada di benak Danny Purnomo, CEO sekaligus Co-founder Brilio.net. Berawal dari pekerjaan pertamanya menjadi customer service di sebuah media, Danny nekat membuat media baru yang menyasar millenial.

“Dulu saya kuliah sambil kerja karena emang cari biaya untuk kuliah harus dari diri sendiri. Dapet kerja pertama sebagai CS di suatu media. Dari situ saya dapet kesempatan untuk handle operasional, jadi saya diangkat sebagai manajer operasional. Mulai dari situ karir saya berkembang sampe sekarang. Nah kuliah saya berhenti ketika karir saya berkembang, mau nggak mau waktu untuk kuliah itu lama-lama semakin nggak ada. Akibatnya ketika ada keputusan untuk tetep kuliah atau kerja, saya memilih kerja,” kata Danny kepada TechforID di Jakarta beberapa waktu lalu.

Brilio.net Hadir Sebagai Media Millenial

Bersama founder lainnya, Danny memutuskan nama media yang memiliki visi misi untuk menghibur pembacanya adalah Brilio.

“Nama Brilio bukan dari saya. Yang memutuskan nama itu dari founder utama dan Chief Editornya kita. Kata-kata Brilio itu diambil dari briliant. Kita berusaha meng-entertain lah. Karena banyak media yang kadang pembahasannya terlalu berat, ngomongin politik, ngomongin berita bencana, kita berusaha balance agar orang yang jenuh, orang yang lagi bosen kerjaannya, dia buka Brilio dan jadi terhibur dengan kontennya kita,” jelas Danny.

Brilio sendiri berkembang menjadi media yang menyediakan kebutuhan millenial. Menyasar ke millenial karena itu generasi menarik, menyediakan tentang apa yang mereka suka, tentang perilakunya, kemudian dikemas menjadi konten sesuai kebutuhan mereka.

Danny sendiri mengaku tidak pernah berambisi untuk menjadi CEO dari salah satu perusahaan media besar di Indonesia. Danny hanya fokus untuk menanggung bisnis medianya dari nol untuk bisa sampai berkembang.

“CEO itu hanya sekedar jabatan yang saya emban,” kata Danny.

Terkait jabatannya ini, Danny mengaku kedepannya akan lebih mudah bagi setiap orang menjadi CEO karena banyak ide baru yang bisa diwujudkan menjadi sebuah bisnis.

“Kalo sekarang itu peluang banyak banget. Karena kalo liat perkembangan jaman terutama dengan banyaknya anak muda yang lebih kreatif, mereka prefer untuk set up company sendiri, itu udah jadi peluang yang paling besar untuk menjadikan mereka CEO dari sebuah company,” jelas Danny.

Skill yang harus dimiliki

Terkait jabatannya sebagai CEO, Danny membagi kisahnya mengenai skill apa yang harus ia miliki serta suka duka menjadi CEO perusahaan media.

“Kalo saya pribadi, skill yang harus saya punya itu Making fast and reasonable decision not making the correct decision because we can’t say our decision is correct. Sama kalo kita udah membuat suatu keputusan dan keputusan itu salah, kita harus cepat untuk memperbaikinya,” ujar Danny.

Tantangan terbesarnya justru bukan dari kompetitor, tapi dari bagaimana cara dia mengelola karyawannya.

“Yang paling sering dihadapi itu karyawan, itu tantangan terbesar. Karena kalo kita bentuk suatu company, makin berkembang, berarti karyawan akan makin banyak. Untuk manage sekian banyak karyawan ini yang jadi challenge terbesar. Sebagai CEO saya harus mengayomi banyak orang. Karena saya suka membuat keputusan untuk meng-hire orang, saya punya keputusan berapa banyak karyawan yang saya butuhkan. Karena emang impian saya untuk merekrut banyak banget karyawan. Kalo paling nggak suka lebih ke pecat karyawan,” kata Danny.

Meskipun dulu ia lebih memilih kerja dibandingkan kuliah, Danny mengaku membutuhkan karyawan yang kuliah karena ia cukup menyesal tidak melanjutkan kuliahnya.

“Kalo ngomongin kuliah, harus wajib kuliah 100%. Tapi saya sendiri nggak lulus kuliah. Jadi itu akan anggak kontradiktif. Kenapa saya ngomong harus kuliah, karena kadang saya menyesal nggak melanjutkan kuliah saya. Kalo ditanya ngulang lagi, saya maunya lulus dan tetep kerja. Mungkin ekspektasi aja ketika saya dulu kuliah di Malang, kerja di Malang, kenapa putus kuliah karena pada suatu jenjang karir itu membutuhkan stgh waktu saya lebih ke Jakarta. Itu kenapa saya putus kuliah di malang. Tapi kalo bisa diulang, mungkin saya akan fight untuk cari kuliah di sini atau gimanapun caranya supaya tetep lulus,” kata Danny.

Share.

About Author

Techfor Id

Leave A Reply