Ingin Jadi CEO Muda? Kenali Dulu Profesinya!

0

“Gantungkanlah Cita-citamu setinggi langit, Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh diantara bintang-bintang,” – Ir. Soekarno.

Quotes terkenal dari Bapak Proklamator Indonesia itu sering diwariskan secara turun temurun ke generasi muda. Untungnya, banyak generasi muda yang terpacu untuk memiliki cita-cita yang tinggi, bukan cuma anak-anak tapi juga para karyawan. Pasti para karyawan mau jadi bos, kan?

Menyandang titel bos atau yang biasa disebut CEO (Chief Executive Officer) bukanlah perkara mudah. Menjadi CEO bukan sekadar memiliki jabatan tinggi, kekuasaan, dan jumlah gaji yang besar, lho! Ada banyak sekali tantangan, suka dan duka, serta tanggung jawab seorang CEO. Yuk simak obrolan Vikri Ardiansyah, CEO VA Creative Grup, dengan TechforID di bawah ini!

Peluang jadi seorang CEO sekarang & kedepannya?

Peluangnya menyenangkan karena kita bisa belajar lebih banyak hal. Sebelumnya mungkin jadi karyawan punya bos, dan kadang hubungannya nggak baik. Tapi di sini justru karyawan kita adalah bos kita. Kita harus manage bagaimana cara mereka bekerja, feeling mereka, mood mereka, make sure mereka bisa bekerja dengan baik. Lebih ke person to person business dan management skill. Peluang jadi CEO sangat besar, bisa ketemu investor juga, bisa ketemu lebih banyak orang yang expert di bidangnya, especially di level-level yang nggak bisa ditemuin sebelumnya karena dia C-level di perusahaan lain.

Tantangan?

Perusahaan saya ini lebih banyak pekerjanya millenial. Millenial ini cenderung dinamis. Mereka bekerja mostly sesuai dengan mood mereka bagus atau nggak, jadi kita harus me-manage bagaimana mereka bisa tetep konsisten, supaya tetap deliver task dengan kualitas yang baik, bisa menjaga hubungan dengan klien, karena kalo dulu kita punya bos yang bisa meng-cover itu, sekarang kita harus jadi orang pertama yang bisa meng-cover semua kebutuhan karyawan, kebutuhan klien.

Skill CEO yang dibutuhkan industri?

Mungkin kalo di Indonesia, digital ya. Tapi digital itu medium. Message is a message yang harus disampaikan. Pesannya harus tersapaikan tetep. Jadi kalo skill CEO lebih ke adaptasi untuk bisa terus belajar, learning about the market yang terus berkembang, seberapa cepat kita bisa terus adaptasi bisa bawa bisnis kita sesuai dengan market saat ini, lalu manajemen yang pasti karena manage banyak orang di sini, banyak stakeholders, shareholders juga. Lalu financial juga. Even saya sendiri masih belajar banyak hal soal financial di sini dengan tim saya juga. Lalu komunikasi paling penting. Karena bagaimanapun medianya, bagaimana cara kita menyampaikan produk & servis kita, mesti dipikirin deliverable nya seperti apa, itu yang penting.

3 hal yang bapak suka dan nggak suka sebagai CEO?

Kalo yang disukai, saya bisa ketemu orang-orang hebat di Indonesia market, dari business leader, expertise-expertise lain, narasumber, lalu bisa ketemu banyak investor, bisa ketemu tim-tim bertalenta lebih dari saya, mereka passion dan eager untuk belajar lebih, orang-orang seperti itu yang bikin saya semangat dalam mengelola perusahaan. Kalo nggak sukanya itu mungkin karena waktu untuk keluarga jadi sedikit berkurang. Lalu, as a CEO itu nggak terbatas oleh waktu atau office hour yang harus masuk dari pagi sampe sore, atau siang sampe malem, lebih ke manajemen waktunya, karena kita bisa dibutuhin 24 jam.

Jadi enaknya jam kerja itu terjadwal atau remote?

Di company saya tetep ada core hour-nya dari jam 9 sampe 6. Tapi saya memberikan fleksibilitas selama karyawan saya tetep bertanggung jawab. Lebih ke manajemen waktunya aja.

Gambaran kerjaan sehari-hari sebagai CEO?

Biasanya kalo pagi, ketika mulai bekerja, saya checking emails apakah ada pekerjaan-pekerjaan yang belum saya selesaikan di hari sebelumnya. Jadi itu basis untuk apa yang harus saya kerjakan hari ini. Kemudian saya juga follow up setiap pekerjaan, saya checking dengan klien, checking tim juga seperti apa campaign yang berjalan, lalu misalnya dibutuhkan untuk meeting atau perspektif klien yang lain saya datang, even bahkan di lunch time saya meeting dengan klien. Mostly sama, saya lebih manage internal dan eksternal, komunikasi dengan klien, ensure bahwa proyek berjalan lancar, deliverable nya bagus, lalu dengan tim seperti itu. Mostly seperti itu, kalo perspektif kliennya beda, aktivitas yang saya manage akan berbeda.

Tapi apa sih masalah berulang-ulang yang dihadapi sebagai CEO?

Mungkin lebih ke belajar terus menerus dari tim. Karena tim kita sometimes nggak bisa cepat beradaptasi di lingkungan baru seperti yang kita inginkan. Mereka harus bisa mengejar kebutuhan klien dengan cepat, pekerjaan harus tetep baik padahal kerjaan mereka juga banyak. Jadi keluh kesah karyawan seperti butuh advice arahan, lalu saat mereka stuck nggak tau mau bagaimana mengatasi keluhan klien, kita yang harus jump in, kita yang harus menypaikan dengan baik ke klien. Karena di early stage ini mereka butuh adaptasi sih.

Saat karyawan udah insecure banget, apa yang bapak lakukan?

At least bisa memberikan ketenangan ke mereka, support, supaya mereka bisa melakukan lebih baik.

Bagaimana cara menghadapi pesaing?

Banyak banget kompetitor yang hebat juga di market, punya klien masing-masing, mereka punya produk dan offering masing-masing. Tapi kalo menurut saya, gimana cara perusahaan saya bisa tetep berkompetisi di market ini adalah dengan punya produk servis sendiri dan unik, punya branding yang unik, delivery method yang unik juga. Kita harus bisa temuin isolated market yang belum dipegang sama orang lain. Karena masih banyak banget peluang yang belum tersentuh. Dari situ kita bisa tetep menemukan diferensiasi kita dengan perusahaan lain. Dan yang pasti servisnya harus tetep excellent sih. Apalagi karena perushaan saya ini bidangnya servia, jasa, jadi harus diunggulkan supaya bisa tetep bersaing.

Gimana cara nemuin ide untuk menjalankan bisnis?

Ide bisa dateng dari mana aja. Bisa dari tim, experience pengalaman sebelumnya. Kita kulik aja. Kita liat market insights juga, apa yang lagi booming, apa yang lagi tren, apa yang happening, bisa kita terapin sesuai itu. Jadi nggak pernah khawatir soal ide, karena pasti banyak banget.

Pengalaman paling susah?

Bisa mengkomunikasikan kebutuhan klien dan investor yang kadang nggak sejalan. Saya harus bisa berada di tengah, saya harus make sure hasil yang diinginkan klien tercapai dan manage ekspektasinya investor seperti apa. Lebih ke memenuhi keinginan semua pihak aja.

Saran untuk CEO yang stuck?

Harus merefleksikan diri. Liat tujuan awal saat memulai bisnis ini seperti apa. Kalo dari saya, misalnya tujuannya untuk bisa bantu banyak orang dengan service dan offering yang saya tawarkan, bisa kasih influence, bisa kasih manfaat ke banyak orang, juga keluarga. Keluarga jadi salah satu bensin saya untuk semangat ngejalanin momen-momen atau fase-fase ketika saya turun. Harus inget awal mulai saat mau jalanin bisnis.

Share.

About Author

Techfor Id

Leave A Reply