Kisah Inspiratif Agate Studio, Perusahaan Game Terkemuka Asal Indonesia

0

Studio GAME biasanya mengerahkan semua upaya mereka untuk menciptakan satu game yang akan menjadi besar dan mengubah nasib mereka.

Perusahaan pengembang game asal Indonesia, Agate Studio, memilih untuk tidak menyerahkan nasibnya di tangan kebetulan dan memilih untuk mengembangkan bukan hanya satu tetapi enam game sekaligus saat pertama kali memulai debutnya.

Walau mungkin terdengar seperti ide gila, tetapi orang harus menyadari bahwa Agate Studio bukanlah perusahaan game biasa. Didirikan pada tahun 2009, perusahaan ini memiliki total 18 pendiri dari berbagai latar belakang yang berbeda.

Arief Widhiyasa selaku founder dan chief executive officer dari Agate Studio mengatakan bahwa saat itu belum ada kursus pengembangan game di Indonesia.

Bergairah dengan seni membuat game, Arief bersama beberapa temannya memutuskan untuk mendirikan perusahaan sendiri setelah menyadari tidak ada peluang di studio lokal lain.

Kelompok yang terdiri dari mahasiswa ilmu komputer, teknik dan seni, bertekad untuk mendirikan sebuah studio game tempat semua orang Indonesia yang tertarik dengan industri game dapat bekerja di dalamnya.

Kisah Awal Agate Studio

Meskipun mereka semua tidak berpengalaman, kelompok tersebut dengan cepat mengumpulkan sumber daya mereka untuk mendidik diri mereka sendiri tentang dasar-dasar menjalankan bisnis.

Arief menjelaskan bagaimana setiap anggota akan meluangkan waktunya untuk membaca buku bisnis dan kemudian berbagi pengetahuan mereka dengan anggota kelompok lainnya.

“Kami sangat terinspirasi oleh satu buku khususnya yang menyentuh tentang kebiasaan sukses perusahaan visioner. Artinya, kami harus memikirkan bisnisnya dulu sebelum mengembangkan produknya, ”ujarnya.

Hal ini membuat grup tersebut dengan cepat memperluas tim mereka dalam tiga bulan pertama untuk mulai mengembangkan enam game pertama mereka.

Saat ini Agate Studio telah berkembang menjadi tim yang terdiri lebih dari 80 orang dengan kantor pusatnya di Bandung. Perusahaan memiliki kantor satelit di kota-kota lain termasuk Jakarta, Yogyakarta, Kuala Lumpur dan Singapura.

Tidak heran jika Agate Studio dengan bangga mengklaim telah membuat lebih dari 200 game dalam tujuh tahun terakhir.

“Kami biasanya akan menugaskan tiga hingga lima orang untuk mengerjakan sebuah game dan dengan cara mereka beroperasi seperti studio game independen di dalam perusahaan,” jelas Arief.

Manfaat menjadi tim kecil di perusahaan besar adalah mereka dapat saling mendukung dan berbagi pengetahuan.

Ini kemudian memungkinkan mereka untuk belajar dengan cepat dari satu sama lain dan mengembangkan permainan mereka lebih cepat.

Diversifikasi Visi Misi Agate Studio

Agate membagi bisnisnya menjadi dua divisi: Agate Level Up berfungsi sebagai agen pemasaran digital yang mengembangkan game untuk merek sedangkan Agate Games yang berfokus pada pengembangan game komersial.

“Perusahaan kami fokus membuat semua jenis game simulasi baik untuk klien maupun game kami sendiri,” kata Arief.

Agate telah terlibat dengan proyek komersial yang telah melihatnya menjelajahi berbagai platform termasuk Virtual Reality (VR), Augmented Reality, Flash, Mobile, dan PC.

Hingga saat ini, mereka telah bekerja dengan berbagai klien seperti Ogawa, Microsoft, Fanta, Allianz dan Pocari Sweat; mengembangkan game yang memanfaatkan augmented reality, simulasi, dan elemen berbasis cerita untuk membantu merek menjangkau audiens mereka.

Agate bahkan telah mengerjakan game untuk kekayaan intelektual yang kuat seperti Upin & Ipin.

Anehnya meski platform game terpopuler di Indonesia saat ini ada di Android, Arief mengatakan game paling laris Agate hingga saat ini adalah game simulasi sepakbola berbasis web bernama Football Saga.

Dalam permainan, pemain ditugaskan untuk membawa pesepakbola profesional melalui karirnya dan pada akhirnya membimbing mereka untuk menjadi legenda sepakbola.

Selain membuat game, Agate juga menjalankan program pelatihannya sendiri melalui Agate Academy dimana mereka melatih dan mengembangkan bakatnya sendiri.

“Ada kekurangan bakat di industri saat ini. Kami memiliki 20 posisi terbuka, namun kami belum bisa mengisinya, ”kata Arief.

Oleh karena itu, Agate mengambil tindakan sendiri dengan mendirikan akademi untuk mengajari anak muda Indonesia dasar-dasar pengembangan game sekaligus membuatnya tetap menyenangkan.

Siswa akan diminta untuk membuat game klasik seperti Tetris dan Pacman untuk mendapatkan pemahaman dasar tentang pemrograman game.

“Kami ingin siswa memiliki pemahaman dasar atau mereka akan membuang-buang waktu mencoba membangun permainan yang kompleks,” katanya.

Akademi ini adalah proyek jangka panjang dan Agate mendukung untuk memberikan kembali kepada ekosistem lokal dengan memberikan umpan balik kepada universitas lokal tentang silabus dan bahan ajar mereka.

Mereka juga terbuka untuk meminjamkan bakat mereka sendiri untuk mengajar kelas jika diperlukan.

Sumber : digitalnewsasia.com

Share.

About Author

Techfor Id

Leave A Reply