Literasi Digital Untuk Generasi 2020 Wajib Dilakukan. Mengapa?

1

Beberapa tahun belakangan ini, dunia digital berkembang sangat pesat. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga di dunia. Hal tersebut dipicu oleh pengguna internet dunia yang telah mencapai 4,021 miliar orang.

Sedangkan, di Indonesia sendiri pengguna internet mencapai 132 juta orang. Jumlah itu menunjukkan jika lebih dari 50 persen penduduk Indonesia sudah akrab dengan internet. Makanya banyak yang gerak cepat memanfaatkan hal ini sebagai ladang usaha. Sayangnya, ada sisi positif dan negatif dari cepatnya kemajuan digital ini.

Sisi Positif Perkembangan Digital

“Ada positif dan negatifnya. In terms of quality time kita harus pintar-pintar mendisiplinkan diri,” kata Eddi Danusaputro, CEO Mandiri Capital Indonesia di Jakarta beberapa waktu lalu.

Eddi memberi contoh jika sedang makan atau acara bersama keluarga, sebaiknya smartphone harus disimpan dulu agar tidak mengganggu. Namun, dari segi keamanan, digital teknologi memudahkan keeping track of one another biar orang tua tau anak lagi di mana dan sebaliknya.

Bahayanya Dunia Digital

Tapi menurut praktisi modal ventura itu, ada hal yang lebih menakutkan dan tersembunyi dibalik kemudahan digital yang memanjakan, yakni keamanan.

“Di dunia digital ini ada yang anggak sedikit menakutkan, yakni cyber security, hacking, itu yang saya takutkan. Anak-anak itu juga jadi target. Bukan cuma cyber bully, tapi data identity theft, dan segala macem di dunia maya itu bahaya,” kata Eddi.

Menurut Eddi, faktor keamanan seperti itu yang cenderung disepelekan karena belum ada edukasi secara mendalam terkait faktor tersebut. Lebih lanjut, Eddi mengaku orang masa kini mudah percaya dan gampang memberikan informasi diri mereka sendiri.

“Menurut saya anak-anak itu digital savvy Tapi kurang street smart. Mereka digital smart Tapi kurang street smart. Sebagai contoh ada yang pdkt, muji-muji dikit, padahal itu belum tentu mereka seumuran, istilahnya fishing itukan cyber identity yang diambil, mulai dari datanya, password-nya segala macem. Itu bahaya dunia maya it’s real,” tegasnya.

Cyber Security harus  dikhawatirkan

Salah satu cara untuk menanggulanginya adalah diadakan keseimbangan di sekolah-sekolah antara memberikan digital education dengan yang street smart. Untungnya, ada program digital literasi yang gencar dijalankan oleh UNESCO dan pemerintah Indonesia. Kemkominfo sendiri merancang anggaran sebesar Rp 421 miliar untuk menjalankan program pengembangan SDM dan literasi digital.

Eddi sendiri khawatir jika penduduk Indonesia tidak segera disadarkan untuk ‘melek teknologi’ dan menyadari bahayanya pencurian identitas, lama-kelamaan hal itu akan berlangsung terus menerus dan masuk ke berbagai aspek di luar digitalisasi.

“Jangankan dunia startup. Tadi mau ke kantor, dibawah ngasih KTP. Sebenarnya itu nggak bener. KTP itu bukti identitas kita. Seharusnya nggak kita kasih ke orang lain. Kita harus pikir cara lain untuk membuktikan identitas kita tanpa harus menyerahkan kartu identitas. Misalnya dicatet tapi kartunya nggak diambil. Sehingga mengurangi KTP/SIM di copy segala macem. Anak-anak muda diminta kirim fotokopi KTP atau fotokopi NPWP, main langsung kirim aja. Itukan kita harus dipertanyakan kegunaannya,” kata Eddi.

Keamanan dalam dunia digital atau cyber security ini masuk ke dalam kategori regular technology (regtech). Jika fintech, edutech, agritech, e-commerce, marketech, adtech itu gencar dan marak digunakan maupun dipelajari di Indonesia, regtech justru belum disadari pentingnya di indonesia.

Itulah, mengapa para generasi 2020 penting sekali literasi digital. Yaitu untuk  membekali diri menghadapi derasnya dunia digital yang kini berkembang pesat.

Share.

About Author

Techfor Id

1 Komentar

  1. wah terimakasi pak Eddi sangat mencerahkan sekaligus dek dekan menghadapi tantangan kedepan hehe

Leave A Reply