Alasan Banyak Industri Teknologi Mulai Melirik Potensi Pasar Benua Afrika

0

Saat CEO & Founder Twitter dan Square, Jack Dorsey, berkemuka ingin pindah ke Afrika untuk beberapa bulan di tahun 2020 selama masa pandemik mulai menarik mata beberapa industri teknologi.

Mengapa demikian ?

Bicara tentang wilayah yang luas, dan populasi yang belum dimanfaatkan yang secara perlahan bergerak maju, membutuhkan smartphone, Cloud Computing, dan infrastruktur pembayaran berbasis Mobile bisa jadi lahan baru untuk mencari keuntungan bagi perusahaan teknologi tersebut.

Langkah pindah Jack Dorsey ke Afrika jelas mengundang tanda tanya besar.

Namun mengapa harus Afrika ?

Seperti yang kamu tahu, Afrika sangat identif dengan benua hitam yang tidak terjamah teknologi. Didalamnya terdapat banyak sekali penyakit menular seperti ebola, konflik antar pemerintah dan penduduk sipil, Hingga banyak terbentuknya pasukan militan.

6 Negara Dengan Perkembangan Ekonomi Pesat di Afrika

Tetapi jangan salah, disamping banyak kabar buruk yang beredar tentang Afrika, terdapat beberapa Negara yang ekonominya sedang berkembang pesat saat ini. Berikut ini daftarnya :

Dilansir dari Focus Economic, terdapat 6 Negara yang berkembang pesat sektor ekonominya di tahun 2016, diantaranya :

  1. Ethiopia
  2. Rwanda
  3. Cote d’Ivoire
  4. Tanzania
  5. Senegal
  6. Ghana

Menurut Laporan tahunan firma investasi Global Partech, Perusahaan Start-up di Afrika mampu menggalang dana hingga US$2 Milliar. Jumlah tersebut bahkan dinilai cukup besar mengingat reputasi buruk yang dimiliki benua tersebut.

Buktinya ?

Ben Lynette selaku Founder Lynett Capital berinvestasi dibeberapa perusahaan start-up afrika, salah satunya yaitu Flutterware, perusahaan ini memberikan solusi layanan pembayaran seperti halnya Uber :

Tujuan Ben juga memang awalnya ia ingin agar kondisi penduduk disana bisa lebih baik lagi. Oleh karena itu ia tidak segan berinvestasi di banyak perusahaan start-up di Afika.

Parstipasi Cina di Pasar Afrika

Bukan hanya perusahaan di Amerika saja yang sadar akan peluang ini. Cina pun turut serta melirik Afrika sebagai pangsa pasar baru.

Menurut riset Afrika – China milik John Hopkins, Ada lebih dari 200.000 warga cina yang bekerja atas kontrak kerjasama antara Afrika – Cina di tahun 2017.

Umumnya para pekerja tersebut bekerja di sektor :

  • Pelabuhan
  • Saluran Pipa
  • Pembangkit Listik
  • Dan Jalan Kereta

Tujuan kerjasama ini sebagai bagian dari strategi Xi Jinping “Belt And Road Initiative” untuk membangun infrastruktur jalur perdagangan cina secara Global.

Langkah Facebook di Pasar Afrika

Tidak mau kalah dengan perusahaan lain, Facebook pun ikut terjun ke pasar afrika. Menurut Wall Street Journal, Facebook dikabarkan memiliki rencana untuk membangun Underwater ring (kabel data di bawah air) disekitar Afrika.

Tujuannya untuk mengurangi biaya bandwith, dan memudahkan Facebook mengait lebih banyak pengguna di benua tersebut dan proyek ini diberi nama “Simba”, sebuah nama karakter dari film Lion King.

Google For Startup Accelerator Africa (Launchpad)

Google juga memiliki sejumlah inisiatif bisnis disepanjang benua Eropa. Salah satunya yaitu mereka merilis program Google for Startup Accelerator Africa (Launch Pad)yang diumumkan September lalu. Program yang dikhususkan oleh Google untuk membagikan pengetahuan, metodologi, dan teknologi mereka kebanyak start-up di Afrika.

Program ini menyasar beberapa jenis perusahaan Start-up di berbagai negara berkembang di Afrika diantaranya :

Nigeria :

  • CredPal (Platform Credit)
  • Crop2Cash (Finansial)
  • Curacel (Insurtech)
  • Festival Coin (Platform Event)
  • Judy (Legal Database)
  • Stears (Media)
  • The Smarthub (Kesehatan)

Kenya :

  • AmiTruck (Logistik)
  • Crediation (Jasa pelayanan pinjaman)
  • Ilara Health (Provider Software diagnostik)
  • Uza Point (Resource Planning Tools)
  • Zuka data science (platform e-learning)
  • Beamm (Video maker)
  • Franc (Mobile Money Management)

Tunisia :

  • Kaoun (Finansial)

Zimbabwe :

  • Thumeza (Logistik)

Ethiopia :

  • ZayRide (pelayaran

Ghana :

  • Adi+Bolga (Skincare)

Lahirnya African Continental Free Trade Area (AfCFTA)

African Continental Free Trade Area (AfCFTA) adalah Perjanjian perdagangan bebas benua afrika. Sampai Juli 2019, 54 dari 55 negara di benua Afrika (kecuali Eritrea) telah menandatangani perjanjian tersebut dan 27 negara penandatangan telah meratifikasinya Perjanjian ini akan berfungsi sebagai payung yang akan ditambahkan protokol dan lampiran lain

Berdasarkan proyeksi United Nation Economic Commission for Africa (UNECA) menunjukan bahwa perdagangan Intra-Africa akan naik sebesar 52% ditahun 2022 sebagai hasil implementasi dari AfCFTA.

Tidak diragukan lagi perjanjuan tersebut akan meningkatkan perekonomian benua afrika di masa mendatang.

Pergerakan-pergerakan ini melambangkan dengan jelas kini benua Afrika tidak seburuk yang dibayangkan. Meskipun memiliki reputasi buruk sebelumnya, banyak puluhan startup yang mulai merintis bisnis, dan tidak sedikit investor yang mau berinvestasi disana untuk membantu perekonomian negara tersebut.

Share.

About Author

Techfor Id

Leave A Reply