STRATEGI 3D, SOLUSI TERBAIK BAGI PERUSAHAAN DALAM MENGUBAH BISNISNYA KE ARAH TRANSFORMASI DIGITAL!

0

Bukan tanpa alasan apa yang di utarakan oleh Arief Yahya, Menteri Pariwisata ( 2014-2019) serta dirinya yang pernah menjabat CEO Telkom. Bahwa saat ini adalah kondisi di mana perusahaan perlu mengubah model bisnisnya ke arah transformasi digital. Dan konsep 3D bagi Arief Yahya adalah solusi untuk memulai masuk ke model bisnis tersebut.

Jika kita bicara soal Transformasi Digital, memang tidak bisa di pungkiri. Dengan adanya beberapa kondisi yang saat ini terjadi, seperti Pandemi Covid19 hingga pemberlakuan fase Era New Normal dan Low Touch Economy.

pada akhirnya pelaku bisnis “ dipaksa “ untuk segera mengubah strategi bisnisnya. Ada beberapa hal yang membuat kenapa hal itu mesti segera di lakukan :

(1) Adanya kondisi Financial benefits.

Kondisi ini di tunjukan dengan tercapainya Indonesia sebagai pasar terbesar di kawasan Asia tenggara untuk bisnis E-Commerce. Dimana saat ini angkanya sudah mencapai Rp 2,5miliar dollar. Dan kondisi ini akan terus meningkat hingga di tahun 2022 mencapai angka Rp20 Miliar Dollar

(2) Dalam hal penyediaan lapangan kerja, maka pada tahun 2022 nantinya, di Indonesia akan tersedia 26 juta lapangan usaha baru yang bersumber dari peningkatan ekonomi digital.

Dimana lapangan baru tersebut secara meyakinkan di hasilkan atau di dapat dari bisnis yang berasal dari kalangan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah

(3) Akan terjadi apa yang di namakan Buyer Benefits.

Artinya apa, bahwa nantinya harga-harga produk khususnya yang ada di sektor bisnis marketplace E-Commercer akan jauh lebih murah dibanding harga produk pada sektor ritel offline.

(4) Terjadinya apa yang di namakan Social Equality.

Kondisi bisa di lihat dari adanya kecenderungan pelaku industri mulai concern terhadap tren Economy Digital. Sehingga dengan adanya industri ini, maka di pasar khususnya dalam lapangan usaha terjadi adanya kesetaraan gender, inklusi layanan keuangan, pemerataan pertumbuhan ekonomi dan masalah-masalah sosial lainnya.

bisa di lihat dari adanya kecenderungan pelaku industri mulai concern terhadap tren Economy Digital. Sehingga dengan adanya industri ini, maka di pasar khususnya dalam lapangan usaha terjadi adanya kesetaraan gender, inklusi layanan keuangan, pemerataan pertumbuhan ekonomi dan masalah-masalah sosial lainnya.

Jika pada akhirnya seorang Arief Yahya mengatakan solusinya adalah implementasi 3D. Maka bagi pelaku bisnis tidak ada cara lain selain mencoba meminimalisir masalah dengan mencoba menjalakan dua hal yang akan membuat performance bisnis perusahaan bisa tetap survive :

(1)Sebaiknya perusahaan segera melakukan dan menjalankan apa yang disebut 3D ( Digital Imperative, Decoding Ekonomi COVID-19 dan Digital Transformasi )

(2) Segera melakukan strategi yang bisa untuk memperkuat Corporate Branding . Maksudnya adalah bahwa Brand yang kita miliki harus mampu melakukan fleksibilitas terkait kondisi yang saat ini terjadi. Sehingga Corporate Brand yang ada bisa masuk dengan leluasa ke konsep-konsep bisnis yang mengutamakan unsur teknologi.

Memang tidak bisa di pungkiri, saat ini pelaku bisnis telah merasakan dampak negatif dengan terjadinya pandemi covid19. Tercatat ada beberapa sektor industri yang terkena dampak dari mulai Pariwisata, Penerbangan, Manufaktur, Otomotif hingga Properti.

Tetapi dampak itu bukan artinya mematikan sektor tersebut, tetapi sebaliknya dengan adanya dampak tersebut maka ada baiknya pelaku bisnis yang ada di sektor tersebut berusaha merubah strategi bisnisnya.

Dan salah satu cara yang bisa di lakukan adalah dengan mengubah menjadi bisnis yang concern terhadap model bisnis transformasi digital.

CRM, SEBUAH TOOLS YANG AKAN MEMBUAT PERUSAHAAN LEBIH MUDAH BERALIH KE MODEL BISNIS TRANSFORMASI DIGITAL.

Mungkin pertanyaannya adalah kenapa harus CRM yang menjadi tools atau alat untuk bisa beralih dari bisnis lama ke bisnis yang berorientasi pada model transformasi digital.

Kita semua tahu apa itu CRM ( Customer Relationship Management), alasannya adalah bukan karena CRM banyak di gunakan oleh divisi Sales dan Marketing. Tetapi CRM ini bisa menjadi dasar bagi perusahaan yang ingin mengubah strateginya dengan menggunakan pendekatan Ekonomi Digital.

Karena basic dari Ekonomi Digital salah satunya adalah kita bermain dengan database. Sedangkan CRM sendiri memang keberadaannya untuk memaksimalkan keberadaan database khususnya customer yang sebelumnya kurang menjadi perhatian penting.

Ibarat kata, dari pada kita mencari klien atau pelanggan baru, kenapa kita tidak memaksimalkan pelanggan lama dengan service yang lebih maksimal. Caranya seperti apa, ya sudah pasti menggunakan implementasi CRM dalam setiap aktivitas kantor atau perusahaan.

Seperti yang terlihat pada CRM yang di kembangkan oleh Barantum (www.barantum.com) Saat ini CRM Barantum telah di kembangkan menjadi CRM Omni Channel. Artinya bahwa dalam dashboard terdapat pilihan sosial media yang bisa di gunakan untuk berkomunikasi dengan customer atau calon customer baru.

Terdapat 4 hal penting yang bisa di dapat perusahaan pada saat implementasi CRM telah di jalankan :

(1) CRM dapat meningkatkan loyal customer. Dimana hal itu terjadi mengingat keberadaan database customer bisa di optimalkan oleh perusahaan.

(2) CRM mampu secara real time menyediakan data dan informasi yang lengkap terhadap customer perusahaan. Hal ini akan mampu mengoptimalkan hubungan kedua belah pihak semakin baik

(3) CRM dapat di gunakan oleh perusahaan untuk melakukan integrasi service yang sangat berguna dan bermanfaat bagi customer. Dengan kondisi seperti ini maka sistem kerja menjadi lebih efektif dan efisien

(4) CRM bisa menjadi standar pelayanan yang bersifat konsistem kepada customer. Karena semua hal itu bisa terjadi lantaran perusahaan telah mendapatkan data dan informasi secara lengkap terhadap customer.

Share.

About Author

ACHMAD S.F

Leave A Reply