Transformasi Baru Bisnis Digital Selama Pandemik Covid-19

0

Seperti yang kamu tahu, kini virus Covid-19 atau yang lebih akrab disebut virus Corona menantang banyak bidang bisnis non-digital bertransformasi menjadi bisnis Digital. Hal ini disebabkan adanya anjuran pemerintah untuk menjaga jarak agar pandemik ini bisa dihentikan dan tidak menyebar luas.

Namun sayangnya dibanyak kasus banyak pelaku bisnis yang lebih memilih gulung tikar, melakukan PHK secara besar-besaran, dan hanya sebagian kecil saja yang masih bertahan.

Kalau kamu seorang pemilik bisnis, pasti akan timbul pertanyaan-pertanyaan seperti :

  • Bisakah kamu memenuhi kebutuhan pelanggan dan karyawanmu ?
  • Bagaimana respon brandmu terhadap Covid-19 ?
  • Apakah memungkinkan bisnismu untuk transformasi menuju bisnis digital selama masa pandemik ?

Selama satu dekade, riset menunjukan bahwa kurang dari 30% perusahaan yang berhasil bertransformasi ke bisnis digital. Sisanya sedang dalam proses pemulihan dan bahkan lebih memilih menutup total bisnisnya.

Tantangan Bisnis Selama Masa Pandemik

Selama lebih dari 3 bulan dilanda pandemik, bukan hanya perusahaan besar saja yang terkena dampaknya. Tidak sedikit usaha kecil menengah yang mau tak mau terganggu bisnisnya. Dampaknya yaitu banyak kawasan perbelanjaan seperti pasar atau mall mengalami sepi pengunjung.

Bertransformasi menjadi bisnis Digital tentu bisa menjadi solusi yang pas selama masa pandemik. Tetapi harus ada tekad kuat selama proses melakukannya.

Membahas perihal transformasi tidak melulu harus mengeluarkan biaya mahal untuk belanja infrastruktur atau layanan aplikasi. Hal ini bisa dimulai dari yang paling berdampak bagi bisnis.

Sebagai contoh untuk warung makan, bisa dimulai dengan mendaftarkan bisnisnya dan menu-menunya ke aplikasi seperti GrabFood, GoFood atau Traveloka Eats.

Dengan demikan membuktikan diri mereka tetap patuh kepada anjuran pemerintah tetapi masih tetap dapat beroperasi.

Disamping sebagai solusi, transformasi digital juga bisa dianggap sebagai peluang baik disaat pandemik maupun sesudahnya. Sederhananya, dunia digital adalah sebuah pasar baru dimana banyak pedagang lain yang menjajakan varian produk mereka.

Sama seperti di pasar tradisional, yang perlu dilakukan pedagang adalah menawarkan produknya kepada orang yang lewat. Pada media online, orang bisa menawarkan melalui media sosial, menggunakan promo diskon, manfaatkan iklan berbayar dan lain sebagainya.

Transformasi digital di satu sisi bukan hanya tentang teknologi, tapi lebih tentang bagaimana bisnis bisa bersaing secara lebih intensif dalam perkembangan yang ada saat ini.

Solusi Bertahan Selama Pandemik

Anggota Dewan TIK Nasional. Ashwin Sasongko berpendapat “ Startup harus tahu betul kegiatannya, lalu mengubah layanan apa yang bisa ditranformasi menjadi layanan digital”.

Ashwin juga membagi perusahaan rintisan ke dalam dua kelompok, pertama adalah startup yang aktivitasnya tidak digital, namun menggunakan teknologi digital sebagai alat.

Bisnis seperti ini contohnya adalah yang berkaitan dengan makanan, produksi makanan tetap membutuhkan kegiatan fisik, namun pembayarannya bisa dilakukan secara digital. Banyak bisnis makanan juga yang pemesanannya daring tapi pembayarannya masih konvensional.

Kelompok kedua adalah perusahaan yang memang produk digital, seperti aplikasi atau game.

Jika aktivitas bisnis perusahaan bersifat non-digital, segera tinjau ulang bisnis dan cari tahu apa saja yang bisa diubah ke bentuk digital.

“Supaya lebih efisien, cepat,” kata Ashwin.

Kalau dilihat lebih dalam, pandemik Covid-19 bisa dinilai sebagai pemicu percepatan perkembangan bisnis digital, karena dengannya banyak pelaku bisnis disemua lini mau tidak mau harus bertransformasi menjadi digital agar masih tetap berjalan.

Sumber : socialbakers.com

Share.

About Author

Techfor Id

Leave A Reply