Buku Kertas VS Buku Digital

1

Perkembangan teknologi memang memudahkan hidup kita. Setuju?

Salah satu hasil teknologi yang begitu erat dengan kehidupan kita sehari-hari adalah smartphone. Dengan adanya smartphone, segala hal dapat kita lakukan dalam genggaman, mulai dari bekerja, belanja, bertransaksi, bahkan mencari hiburan, seperti mendengarkan musik dan membaca buku.

Ngomong-ngomong soal buku, tahukah kamu ada berapa banyak buku yang terbit setiap tahun di Indonesia?

Berdasarkan Data Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi)  ada 1300 penerbit di Indonesia dan hanya separuhnya yang aktif. Penilaian aktif atau tidaknya sebuah penerbit dilihat dari seberapa banyak buku yang diterbitkan (minimal 10 judul buku).

Dari setiap judul buku, biasanya hanya dicetak sebanyak 3.000 eksemplar. Pangsa pasar buku dalam negeri mencapai sekitar Rp 14,1 triliun per tahun. Sekitar 60 persen transaksi yang ada di pasar buku berasal dari sektor pendidikan.

Tempat Kursus Komputer Terbaik | Digital Marketing, Programming, SEO, Dll.

Akankah Buku Digital Menggeser Buku Kertas?

Lantas, bagaimana dengan pasar buku digital? Meskipun masih terbilang rendah, tapi kehadiran buku elektronik turut serta membantu menaikkan minat baca penduduk Indonesia dan dunia.

Sumber foto: dailysocial.id

Buat kamu yang mau jadi penulis, ada baiknya untuk mencetak buku kamu dalam versi cetak maupun elektronik, seperti Aulia Halimatussadiah. Co-founder yang juga menjabat sebagai CMO Storial.co ini terbilang sangat aktif dalam menulis buku dan tidak kaku terhadap perkembangan zaman dengan menerbitkan beberapa bukunya ke dalam bentuk elektronik. Seperti apa pengalaman Aulia di dunia penerbitan? Yuk simak di bawah ini!

Baca Artikel Terkait : Aulia Halimatussadiah, Wanita di Balik Suksesnya Storial.co

“Menurutku, buku digital itu hadir karena perkembangan zaman, tapi tidak akan menggeser buku cetak. Karena beda marketnya,” kata perempuan yang akrab disapa Salsabeela ini.

Menurutnya, format buku itu bebas aja, baik digital maupun cetak karena ia sangat menggemari membaca tak terbatas dengan bentuknya.

“Aku baca e-book, aku baca buku juga karena ada buku-buku tertentu yang lebih enak dibaca dalam versi cetak. Contoh kayak buku fotografi, coffee table book, enak diliatnya kalau dicetak,” tambah Salsabeela.

Selain itu, buku cetak juga lebih unggul saat dibaca sebagai teman bersantai.

“Kalau novel itu enaknya dicetak. Contohnya kayak di pantai atau di mana, kayaknya kalau kita bawa gadget kan kena pasir atau panas matahari jadi nggak enak, kalau buku yang di print lebih enak,” katanya.

Kalo kamu sendiri, setuju dengan pendapat Aulia? Ayo komentar di bawah mengenai jenis buku yang kamu suka, buku digital atau cetak?

Share.

About Author

Aulia Halimatussadiah

Co-Founder & Chief Marketing Officer Storial.co

1 Komentar

  1. Pingback: Apa Itu "Writing for Healing"? | TechForID TechForID

Leave A Reply