Apa Itu “Writing for Healing”?

1

Beberapa waktu lalu, jagat dunia maya dihebohkan dengan kisah Layangan Putus yang ditulis oleh seorang ibu muda yang mengaku tujuannya menulis bukan untuk mencemarkan nama baik orang lain, tetapi hanya untuk mengeluarkan semua rasa sakit yang dipendamnya.

Dalam pembukaan kisahnya, ibu muda itu menyebut kata writing for healing sebagai dasar utamanya menulis kisah pribadinya di media sosial.

Sebenarnya apa sih writing for healing itu? Dan benarkah menulis bisa “menyembuhkan” kita?

Yuk simak obrolan techforID dengan Aulia Halimatussadiah, Co-Founder dan CMO Storial.co yang juga mentor writing for healing.

Baca Juga : 4 Aplikasi yang Akan Memudahkan Pekerjaanmu

Apa Maksud Writing for healing?

Writing for healing ini adalah konsep menggunakan tulisan sebagai katarsis, jadi tempat sampah. Karena apapun yang kita pikirkan itu harus diekspresikan sebenernya. Kalau disimpen aja, ya istilahnya sampah kalau disimpen kan jadi ngeganggu stabilitas kita secara mental.

tempat kursus seo

Cara sederhana yang saya lakukan simpel aja, tulis aja randomly apa yang sedang saya pikirkan. Kalau lagi perlu banget bisa beberapa kali sehari. Tapi kalau nggak ya pagi aja atau malem aja. Konsep ini aku ajarkan ke orang-orang yang membutuhkan. Karena ini udah membantuku banget.

Makanya aku pengen ajarin gimana caranya. Intinya sih gimana caranya mengekspresikan apa yang dipikirkan seutuh-utuhnya dikeluarin dan pada saat dibutuhkan. Kalau teknik yang biasa kulakukan, aku punya buku sendiri yang kayak tempat sampah itu, jurnal.

Terus juga kalau nulis pake pulpen warna kuning, for example. Jadi kalau mau ngomel-ngomel pun kita nggak bisa baca lagi dan nggak akan pengaruhin kita lagi.

Baca Juga : Begini Cara Asah Skill Kreatif Kamu!

Kenapa kuning?

Jadi saran aku saat kita nulis Journal for Healing ini, yang tadi aku bilang di pertama, jurnalnya dibedain tempatnya, jadi kayak aku punya Gratitude Journal dan dibedain sama itu, jadi bener-bener ada jurnal tempat sampah sendiri.

Yang kedua nulisnya pake spidol kuning karena mau kita jadikan tempat sampah nih, jadi kita bakal nulisin hal-hal yang paling menyakitkan dalam hidup kita, pokoknya berat banget, ya kalau dibaca lagi di masa depan, pasti bikin kita down lagi.

Dengan spidol kuning, itu nggak akan kita baca lagi karena nggak keliatan, sehingga it’s for us, kita tumpahin sampai lega, dan nggak perlu kita baca lagi, forever. Paling bagus lagi kalau mau ya dirobek aja, terus buang.

Audiensnya orang yang membutuhkan, seperti apa kriterianya?

Orang yang membutuhkan itu misalnya kemarin ada korban sex-trafficking (perdagangan sex manusia) yang punya banyak trauma. Aku juga pernah bantuin pengungsi-pengungsi dari Afghanistan di Indonesia, jadi layak merasa tertekan secara mental.

Tapi menurutku semua orang perlu ya, ini seperti pencegahan jangan sampai nunggu sakit. Karena kita harus balancing our life everyday, karena itu tanggung jawab kita.

Baca Juga : Buku Kertas VS Buku Digital

Dengan Menulis, Apakah Membantu Healing?

Iya, salah satu caranya. Karena apa yang terjadi, saat kita menuliskannya, biasanya nangis atau emosi yang keluar.

Nah itu yang sebenernya poinnya bahwa kita bisa menumpahkan perasaan kita.

Respon writing for healing?

Menurutku semua orang punya masalah dan beban pikiran masing-masing. Jadi nggak punya respon apapun.

Kalau mereka nulis itu dan mereka bacain ke saya, ada tentu saja rasa prihatin untuk anak-anak seusia mereka. Karena aku ngajarin anak umur 15 tahun yang hidupnya udah kayak susah banget, mengalami perjalanan yang sangat berbahaya dalam hidupnya dan dia tumpahkan ke tulisan.

Tempat Kursus Komputer Terbaik | Digital Marketing, Programming, SEO, Dll.

Aku paling prihatin aja dan sekarang dia udah baik-baik aja karena dibantuin sama sebuah yayasan, yaudah nggak apa.

Baca Juga : Mau Jadi CEO? Yuk Belajar Dari Ahlinya!

Efek menulis berpengaruh ke lingkungan sekitar?

Efek menulis itu berpengaruh banget. That’s why kita punya yang namanya majalah, surat kabar, sampai ke film. Film kan asalnya tulisan juga, dari script. Jadi tulisan itu sangat mempengaruhi cara berpikir kita. Banyak orang ingin mempengaruhi orang lain ya dengan tulisan.

Sekarang yang banyak kejadian kan di sosial media, di Twitter buat bantuin orang, tulis aja cerita sedih-sedih dan banyak yang pengen bantu. Jadi tulisan itu banyak banget pengaruhnya ke orang lain.

Menurut Kak Aulia, menulis ada artinya tersendiri?

Buat aku menulis itu udah kayak kita bernafas. Jadi udah kebutuhan.

Aku adalah pembaca yang sangat rakus. Aku baca buku itu satu buku sehari bisa. Bahkan sehari baca 3 buku sampai selesai juga pernah. Itu karena emang lagi penasaran sama suatu topik, jadi cepat bacanya. Tiap kali kita ambil banyak ilmu, itu harus kita salurkan.

Salah satu cara yang paling cocok di aku adalah nulis. Aku juga suka ngajar sebenernya, ngajar entrepreneurship, ngajar nulis juga creative writing, ngajar writing for healing, ngajar gratitude journal gimana untuk bersyukur. tapi paling suka nulis. Karena penting banget buat balance.

Berikutnya Baca : Aulia Halimatussadiah, Wanita di Balik Suksesnya Storial.co

Share.

About Author

Aulia Halimatussadiah

Co-Founder & Chief Marketing Officer Storial.co

1 Komentar

  1. Pingback: Ingin Jadi Data Scientist? Pelajari Skillset Berikut Ini! | TechForID

Leave A Reply