AI & Data Science

Israel Vs Hamas, Begini Gambaran Perang AI Pertama di Dunia

Written by Techfor Id

Aksi militer Israel pada bulan Mei 2021 lalu di Gaza digambarkan sebagai perang Kecerdasan buatan (AI) pertama di dunia.

Perang ini memberikan kita gambaran sekilas seperti apa kalau AI saling perang satu sama lain kedepannya.

Sistem anti-rudal Iron Dome Israel mencegat roket yang diluncurkan dari Jalur Gaza menuju Israel. Foto : Asia.Nikkei.com

“Ini adalah pertama kalinya AI digunakan secara luas di seluruh operasi.” Kata seorang perwira senior Israel yang terlibat dalam konflik digital mengatakan kepada Nikkei Asia.

Teknologi ini dikerahkan untuk mempertahankan diri dari serangan rudal dan mengidentifikasi target.

Pelajaran dari pengalaman medan perang yang sebenarnya akan digunakan untuk meningkatkan akurasi pada sistem AI.

Antara tanggal 10 dan 21 Mei, Organisasi militant Hamas kabarnya menembakan lebih dari 4.000 roket ke Israel.

Selama operasi, militer Israel menembak jatuh 90% roket yang terbang dari Gaza, mengandalkan sistem pertahanan anti-pesawat Iron Dome.

AI digunakan untuk menentukan lintasan roket berdasarkan informasi radar, mencegat mereka yang menuju daerah padat penduduk.

Dan Sistem ini dirancang untuk membiarkan roket yang dinilai jatuh di daerah tak berpenghuni.

Sistem anti-rudal Iron Dome Israel menembak untuk mencegat roket yang diluncurkan dari Jalur Gaza menuju Israel. Foto : Reuter

Setiap rudal pencegat (Interceptor Missile) diperkirakan menelan biaya lebih dari USD$50.000, sehingga menghilangkan intersepsi yang tidak berguna membantu mengendalikan biaya.

Penggunaan AI dalam Militer memang sedang menjadi topik yang hangat diperbincangkan bahkan dalam skala global. Saat ini ada banyak perusahaan yang saling berlomba menggunakan teknologi tersebut untuk aktifitas militer.

Bahkan ada laporan dari Dewan Keamanan PBB yang menyatakan kalau Mini-Drone buatan Turki yang dilengkapi AI bisa secara otomatis menyerang musuh tanpa campur tangan manusia yang rumornya pernah digunakan selama perang saudara di Libya.

Walau senjata yang dilengkapi AI dikenal bisa menghemat staff, biaya, dan meningkatkan efisiensi, tetapi ia memunculkan kekhawatiran karena cara kerjanya terkadang tidak bisa di intervensi manusia.

Maksudnya ia kalau sudah di program membunuh targetnya, maka ia akan membunuh tanpa memandang jika targetnya tersebut hanya atau masih seorang anak-anak.

Polemik ini juga sempat mendorong beberapa kelompok Hak Asasi Manusia melarang pengembangan senjata berbasis AI yang sepenuhnya otonom (tanpa awak).

About the author

Techfor Id

Leave a Comment

Click to ask
Hai, Tanya-Tanya Aja
Hi ini Windy, dari techfor

Windy bisa membantu kamu memahami layanan Techfor
Seperti

1. Kursus Online By Expert
2. Partnership Event dan Konten
3. Layanan liputan multimedia
4. Dan hal lain yg ingin kamu tau

Kirim saja pesan ini serta berikan salah satu nomor diatas atau beritahukan windy lebih jelas agar dapat membantu Kamu