Teknologi Blockchain Siap Bantu UMKM Mengolah Data Bisnis Secara Mudah dan Gratis

3


Riset yang dilakukan oleh Emarketer, sebanyak 100 juta orang Indonesia aktif menggunakan smartphone. Selain itu, penetrasi internet di Indonesia mencapai 54,68% dari jumlah penduduk. Maka dari itulah, Indonesia termasuk ke dalam deretan negara yang pasar digitalnya tengah tumbuh dengan pesat.

Hal inilah yang harus diwaspadai oleh pelaku industri dalam negeri. Pasalnya, banyak negara asing yang tengah melirik Indonesia sebagai target pasar mereka. Sangat penting untuk para pelaku bisnis dalam negeri untuk tidak kalah saing dengan para perusahaan asing tersebut. Namun, kendala yang ditemui pelaku bisnis dalam negeri cukup berat, salah satunya ialah kendala dalam mendapatkan dana untuk menunjang bisnisnya

Pandu Sastrowardoyo, salah satu penggagas masuknya teknologi blockchain di Indonesia, membeberkan proyek terbarunya di bidang blockchain yang disebut-sebut mampu membantu para pelaku bisnis UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) dalam mendapatkan pendanaan agar tidak kalah saing dengan perusahaan asing. Lewat interview eksklusif, Pandu menceritakannya pada TechforID.

Halo mbak Pandu. Bisa dijelaskan sedikit mengenai profesi mbak, banyak banget nih kayaknya yang berkaitan dengan blockchain?

Pertama Blockchain Zoo, aku co-founder, kita sampai sekarang satu-satunya perusahaan consulting block chain di Asean yang masuk Gardner. Lebih fokus ke pasar di luar negeri. Aku bikin Asosiasi Blockchain Indonesia dan aku jadi sekjennya. Asosiasi ini buat blockchain companies bukan individual. Awalnya cuma 6 perusahaan, sekarang udah menaungi 16, dan akan nambah 10 lagi secepatnya. Selanjutya, aku juga dari Blocksphere, mirip sebenarnya sama Blockchain Zoo, ngerjain consulting juga, cuma fokusnya lebih ke development dan ditujukan untuk pasar di indonesia. Satu lagi Kendi. Ini proyek aku terbaru yang ngebantu UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah). Aku bikin aplikasi buat bantu UMKM backability. Karena masalah utama UMKM adalah tidak punya catatan yang bagus, tidak punya pathway untuk buat catatan yang bagus, mereka tidak punya financial literacy, dan tidak punya digital literacy. Financial and digital literacy, itu krusial harus diajarkan di kelas, praktek. Jadi itu atribut. Yang kita liat ada beberapa sistem yang bisa bantu. Pertama peer to peer lending, satu lagi POS (Point of Sale).

Wow menarik sekali mba. Boleh diceritakan lebih dalam mengenai proyek terbaru mba dan mengapa Peer to peer lending dan POS jadi solusi buat UMKM?

Peer to peer lending itu agak berbahaya, mereka (UMKM) takut, apalagi mereka liat itu ada di berita, heboh segala macem. Peer to peer lending tidak bermaksud jahat dari awal sebenarnya, karena target mereka termasuk individu yang bisa cuma ngasih KTP abis itu langsung dapet pinjaman. Itu berbahaya dan resikonya gede. Karena resikonya gede, mereka terpaksa ngasih bunga besar sekali. Karena gedenya bunga itulah, sampai ada kasus bunuh diri segala macem. Isu berbahaya kayak gini kita liat dan selesaikan di Kendi dengan cara gimana pemberi pinjaman bisa liat data yang lebih bersih. Yang ku liat, itu isunya di data. Sebenarnya, data ini kan udah bisa didapatkan dari aplikasi-aplikasi kecil kayak POS. Masalah POS ini ada 2, belum ada yang bener-bener fokus di UMKM, khususnya di mikronya. Bisnis mikro butuhnya POS yang mudah digunakan, sekali pakai langsung bisa. Tapi yang kita temukan, POS sekarang makin susah digunakannya. Contoh bisnis mikro di sini, yang bener-bener mikro kayak tukang bakso ya, mereka butuh yang bener-bener simpel. POS kan banyak yang harus menggunakan tablet, pebisnis mikro ini tidak punya dan kalau mesti pakai hp harus yang landscape, jadi kesannya tidak natural aja. Problem keduanya itu berbayar. Karena perusahaan-perusahaan penyedia POS ini ya jualannya POS itu sendiri. Ngapain pebisnis mikro beli itu untuk bisa gunain itu? Di sisi lain, banyak banget pengguna smartphone di Indonesia, mulai dari petani, tukang warteg, tukang bakso pun pasti punya. Jadi, dari situ kita bisa memberikan pengolahan data yang bener dengan memberikan POS yang gratis. Udah ada prototype nya di Play Store namanya KENDI POS. Bisa dioperasikan menggunakan satu tangan, bahkan lebih gampang dari kalkulator untuk menghitung pemasukan dan pengeluaran bahkan kirim receipt via email ataupun print receipt. Targetnya mikro sama kecil. Medium juga, tapi itu target sekunder, primary nya tetep mikro dan kecil.

Selanjutnya apa yang bisa dilakukan Kendi POS untuk membantu usaha mikro dan kecil?

Data tentang bisnis itu akan dikumpulkan sampai beberapa bulan, sampai cukup banyak, nanti engine nya bakal bilang kalau pebisnis ini udah eligible untuk melakukan pinjaman. Baru disambungkan ke peer to peer lending. Peer to peer lending nya lagi kita kembangkan, kerja sama dengan beberapa pihak, jadi data-data yang bersih itu akan bisa dilihat oleh peer to peer lender itu. Karena di sini ada banyak pihak, supaya semuanya percaya dan tidak ada yang berusaha mainin data, blockchain diperlukan. Meskipun porsinya cuma sedikit, tapi blockchain membantu Kendi untuk tidak bisa ngubah data yang udah masuk. Jadi, tidak bisa manipulasi data yang dapat membahayakan user nya. Misalnya aku punya warung bakso di Cimahi, aku ubah aja datanya supaya jadi yang paling bagus dan dapat pinjaman paling gede. Nah, blockchain di sini principal aja, supaya kita sebagai third party pun tidak bisa ngubahnya. Makanya semua data yang masuk, bener-bener dijaga dan tidak bisa diubah isinya.

Kendi ini bisa dibilang jadi blockchain project, tapi lebih suka disebut sebagai IT Solution untuk UMKM yang salah satunya menggunakan blockchain. Kita pakai blockchain, pakai analytics, pakai mobile application juga iya. Blockchain ini digunakan di tempat yang cocok untuk dia. Tidak dipaksain. Soalnya di luar sana, ada banyak proyek yang dipaksakan untuk jadi proyek blockchain.

Share.

3 Komentar

  1. andika febriansyah on

    Apa alasan blockchain membantu UMKM mengolah data bisnis secara mudah dan gratis ?

  2. yudis prasetya on

    Seharusnya syarat untuk mendapat pinjaman tidak hanya KTP saja, itu sangat berbahaya dan resikonya gede

Tanya Sesuatu Pada Narasumber & Komentar