Transhumanisme: Secepat apa itu akan datang? Niscaya atau Utopia?

4

Apa kalian pernah memikirkan dunia yang kita tinggali ini berubah menjadi sebuah mesin besar lengkap dengan perangkat perangkatnya, mesin tersebut dipastikan akan mampu memperbaiki komponen -komponen nya dari segala kegagalan, kerusakan maupun penghancuran.  Seperti komputer atau handphone, ketika ada yang rusak kita tinggal mengganti atau memperbaikinya. Potensi seperti itu sudah mulai didengungkan dengan diiringi berbagai penemuan baru dari revolusi teknologi.

Sebagai bagian dari objek didunia maka manusia juga dituntut untuk mengembangkan dirinya karena hal itu merupakan keharusan. Manusia tidak akan berada di deretan puncak  rantai makanan dan menjadi makhluk yang berdiri diatas tangga peradaban tanpa kemampuan untuk bertahan dan menaklukkan. Meski demikian, manusia juga memiliki keterbatasan.

Keterbatasan? Okey, tapi percaya atau tidak? akan tiba saatnya keterbatasan manusia diambil alih oleh teknologi, termasuk penggunaan alat teknologi untuk mengatasi masalah-masalah kehidupan. Ada ketakutan bahwa jika itu terjadi maka manusia akan tersingkir oleh mesin. Kenapa harus takut? Bukankah dalam keseharian kita hal seperti itu sudah terjadi dan semakin marak di era digital seperti sekarang. Mau pesan makan? Tinggal buka handphone? Mau beli tiket? Buka handphone. Mau mendengarkan musik? Buka handphone.

Mau melihat status terakhir gebetan kita? Buka Facebook, Instagram, Twitter? Mau nonton siaran langsung bola? Tinggal cari link streaming. Mau cari jodoh? Tinggal cari chat room mak comblang yang bertebaran di Google Store. Mau liat wajah pacar yang lagi liburan di luar negeri? Tinggal video call dari Whatsapp, Messenger, Skype, Tango Google Duo dan masih banyak lagi. Come on! Semua sudah sangat efisien.

Teman teman juga pasti paham bahwa teknologi bukan saja mengubah dunia dan orang-orangnya tapi juga sangat berperan dalam memperbaiki kondisi manusia sebagai sebuah organisme hidup. Bayangkan, bagaimana orang buta sejak lahir mampu melihat kembali dengan chip yang dipasang diretina buatan? Atau orang yang tidak bisa mendengar akan mampu memperbaiki gendang telinganya dengan mesin kecil yang tidak berbeda dengan gendang telinga asli. Bayangkan juga, bila orang yang sejak kecil bisu tiba tiba bisa bernyanyi semerdu Mariah Carey dengan alat yang diperjual belikan secara murah, bebas dan masif. Bukankah beberapa dari itu sudah terjadi?

Kita tengah berada dalam persimpangan jalan menuju perubahan dan revolusi teknologi besar-besaran dan inovasi – inovasi tersebut bukan hal yang tidak mungkin terjadi dikemudian hari bahkan berpotensi untuk meluas. Kali ini, Techfor.id akan bersama dengan Pandu Sastrowardoyo. Meski dikenal sebagai perempuan yang identik dengan penggunaan teknologi Blockchain di Indonesia namun Mbak Pandu seperti nama akun instagramnya juga men-declare dirinya sebagai seorang Transhumanist.

Salah satu postingan diblognya www.mbakpandu.com tertulis dengan gagah, I’m a transhumanist. I believe that current human race is a temporary evil to be phased out once we find a better substrate to maintain our mind patterns. I disbelieve in the soul and know that consciousness is a childish illusion. I believe for humanity to survive, it must transcend humanity.

Istilah transhumanisme memang istilah yang masih sangat asing di Indonesia, jangankan orang awam bahkan didunia IT sekalipun masih kaku untuk istilah itu. Maka untuk itu, Techfor.id akan mencoba berbincang bersama Pandu Sastrowardoyo tentang transhumanisme dan hal-hal seputar itu.

Mbak Pandu, sangat menarik membaca salah satu postingan di blogmu tentang Transhumanisme, jelasin dong pandanganmu tentang itu?

“Transhumanisme itu intellectual movement yang percaya bahwa manusia akan mampu mengatasi keterbatasan fisik dengan mengadopsi teknologi. Transhumanist meyakini bahwa melalui sains manusia akan mengambil evolusi ke dalam tangannya sendiri. Secara fisik, mental dan emosi kita akan terus meningkat karena dimungkinkan oleh ilmu pengetahuan bahkan kita bisa berkembang jauh melampaui keterbatasan sifat biologis kita.

Teknologi akan mengubah kita menjadi sesuatu yang lebih unggul dari manusia. Kalo aku tertarik pada isu seperti computing substrate of the human. Gini, sebelumnya, ini mungkin enggak semua orang bisa setuju ya.  I’m actually one of the people who are very passionate about expanding the capability of the human race, pada dasarnya, aku sangat  suka dengan human augmentation and I think I m not the only one bahkan di Indonesia.”

Seru nih membahas Human Augmentation, seperti apa sih?

“Pilihan katanya tuh Augmenting yang lebih tepat diartikan ‘untuk meningkatkan’. Dalam hal ini, teknologi yang dirancang untuk meningkatkan kecerdasan manusia bukan untuk menggantikannya jadi lebih seperti memperkuat peran kecerdasan dalam mecahkan masalah.

Jadi gini, masyarakat umum memiliki ketakutan yang tidak realistis tentang artificial intelligent bagaimana robot otonom dan sistem cerdas lainnya akan mengubah tempat kerja dan kehidupan secara umum. Istilah augmented intelligence akan membantu orang memahami bahwa perangkat artificial intelligent hanya akan meningkatkan produk dan layanan bukan menggantikan manusia yang menggunakannya.”

Bukankah Human Augmentation tidak selalu mendapatkan tanggapan yang positif dalam arti, bagi para pengkritiknya itu dianggap tidak bisa dilakukan dengan aman bahkan satu kesalahan kecil bisa berakibat fatal?

“Pada dasarnya manusia sejak lahir dan diciptakan baik oleh evolusi atau apapun yang kita percayai sebenarnya manusia sudah mengembangkan kemampuan dirinya dari waktu ke waktu karena manusia adalah makhluk yang paling banyak pake tools diantara makhluk – makhluk lain didunia ini. Even a stick actually augmenting our reach. Tongkat membantu kita mencapai sesuatu and even a rock augmenting our capability. You know how to killing animals.

Kayak nimpuk hewan di zaman purba. Perkembangan manusia yang dulu hanya sekedar fisik lama kelamaan berkembang menjadi kecerdasan intelektual dari yang awalnya kita tidak bisa mengingat bertahun-tahun sekarang kita bisa mengingat ratusan tahun dengan mengetahui apa yang terjadi dimasa silam. Human memory has expanded. Manusia terus mengembangkan dirinya sesuai zaman. Became faster and faster, some if us calling it singularity. Fokusnya pada apa yang disebut dengan singularity.”

Singularity? Seperti apa itu?

“Dalam konteks teknologi, singularity itu menggambarkan kondisi dimana artificial intelligent sudah bisa seperti manusia. Singularity itu kalo bicara transhumanisme adalah komputer kuantum yang mampu menyelesaikan masalah dalam waktu cepat lewat kecerdasan buatan, kecerdasan tersebut akan melebihi kapasitas otak manusia. Singularitas merupakan peristiwa saat tidak ada lagi perbedaan yang menonjol ketika keduanya bergabung menghasilkan super intelligence yang  merancang generasi pemikir yang semakin kuat dan berproses terus menerus yang mungkin tidak akan berhenti sampai mencapai melampaui kecerdasan manusia manapun di muka bumi.

Term singularity itu kita pinjam dari ilmu fisika dimana akselerasi dari penyimpanan data dan kemampuan kita untuk storing data akan meningkat terus yang lama kelamaan akan terjadi interface maka antara kita dan data semakin transparan. So if we talk about interface like a piece of paper and you write something there an interface between your eyes because you look at it and then think about and then you write something that was also interface

Kemudian kita memiliki telepon lalu komputer. Dari komputer ke telepon itu sebenarnya bandwith interface-nya mengecil karena dengan komputer kita bisa mengetik dengan 10 jari dan disaat bersamaan kita bisa melakukan hal lain di komputer itu, terjadi interface yang lain. Sementara jika kita menggunakan telepon, kita menulis menggunakan jempol dan disaat bersamaan bandwith nya tetap konstan makanya dulu orang yang sebutuh apapun jarang bawa komputer kemana-mana tapi sekarang semua orang membawa handphone. Semakin lama, bandwithnya semakin konstan. “

Jadi handphone lebih fleksibel?

“Yes, Kalo komputer sebenarnya lebih besar memorinya tapi  tidak fleksibel untuk digunakan sementara handphone lebih fleksibel untuk digunakan walaupun lebih sedikit memorinya tapi tetap konstan. Pada level selanjutnya tetap berimplikasi pada bandwidth lagi. Ada satu lagi yang basically sangat menarik karena kita bisa bicara dengan komputer tapi lewat subvocalization, jadi kita enggak bicara langsung seperti hey, what time is it? Or hey, please remind me of this.

Ini seperti bisik bisik yang orang lain tidak bisa dengar hanya untuk diri sendiri, bisa dideteksi dan langsung memunculkan hasil. Ini adalah teknologi yang mirip Google Glass yang kita tahu itu project Google yang tidak sukses dipasaran. Google Glass memiliki kamera dan mampu menampilkan sederet perintah di layar lensa yang bisa langsung dibaca oleh penggunanya, selain itu juga mampu melakukan pekerjaan melalui perintah suara. Secara umum, dalam teknologi ini kita bisa melihat data – data yang masuk secara konstan.”

Perkembangannya benar-benar revolusioner sekali yaa?

“Nah itu, kemudian yang sekarang mulai di kembangkan oleh Elon Musk (CEO of SpaceX and Teslared) mereka sedang membuat sebuah project baru yang mereka namakan neuralink, brain Implant yaitu menghubungkan otak manusia secara langsung ke komputer dan perangkat elektronik lainnya melalui implan cybernetic yang memungkinkan pikiran untuk berinteraksi dengan gadget dan program.

Teknologi interfaces brain to machine or they call it Neural Lace akan memungkinkan otak manusia bersaing dengan artificial Intelligence. Teknologi ini menghubungkan otak manusia dengan komputer tanpa perlu koneksi fisik. Jadi, disaat kita bertanya sesuatu dan saat ini juga langsung mendapatkan jawaban dari pikiran kita sendiri. Sekarang ini, Brain have neo cortex but in the future we will have exocortex, dimana semua device akan bisa terkoneksi.”

Terobosan seperti itu akan membuat mesin pencarian dalam diri kita sendiri?

“Yup. Sekarang, kalo kita ditanya sesuatu yang saya tidak tahu, wait I will googling it immediately tapi nanti saat kamu bertanya kepada saya hal yang tidak saya pahami maka saya akan memikirkan dan langsung mendapatkan jawaban secara cepat. So thats became augmentation.”

Bisa terjadi mind hacking dong?

“Mind hacking will happen? Gini, bahkan sekarang handphone mu sudah melakukan itu. Even now, people very involved with their gadget. Misalnya, aku bisa ngobrol sambil mendengarkan podcast. Already doing it actually it just I cannot.. it bandwidth goes to waste. You heard stuff in you head but you can’t control the device but in the future you can control the device so that’s the different. Hp or system will be part of your brain. Can you imagine that? So, the best way to hack a system is by hacking its people.”

Ini baru level Augmentation?

“Yes, and the level of augmentation, in the future akan semakin besar dan di saat yang sama your exocortex might be bigger than you neocortex. Itu level dimana human upload terus menanjak coz computing substrate of computer much faster and organic. Aku melihat akan ada pintu ke arah kemajuan yang akan terus meningkat karena orang orang sejak kecil sudah meng-augmented dirinya sendiri dengan berbagai macam teknologi. Kita menggunakan teknologi ini setiap hari untuk membuat kita semakin cerdas. “

So, Kembali ke singularitarian?

“Ada beberapa tipe singularitarian, ada yang langsung diupload semuanya dan ada yang tidak namun jelas terlihat dan dapat kita pastikan bahwa human society is going to be expanding to the point where we communicate directly without touch to computer at the time the exocortex is going to be expanded and its going to more important than neocortex itself. In the future your identity will be those all devices or those technology’s because human its just a matter, anyway. Human mind just a matters.“

Dalam pandanganmu, saat ini sudah sampai mana?

“IBM aja sudah menggunakan sinapses chip yang ditanam dalam otak manusia namun tidak secara langsung karena masih belum mengupload human mind tapi itu adalah sesuatu yang bukan tidak mungkin. Sekarang aja, jika ada orang lumpuh yang kemudian ditanam chip dalam otaknya maka dia akan mampu mengontrol komputer. Hal Itu sudah terjadi meski mungkin agak rumit karena harus membedah kepalanya untuk memasukkan chip tersebut. Di masa depan itu akan terjadi karena orang yang tidak menggunakan itu bakalan tidak lebih pintar dari yang menggunakan.”

Misalnya?

“Well, anggap aja kita lagi dalam sebuah perdebatan, team googling lawan team non googling pasti yang akan menang adalah team yang non googling karena mereka tidak bergantung pada devices, semuanya  jawaban sudah ada didalam  pikirannya. Aplikasi itu sudah menjadi bagian dari dirinya. So, Human augmentation itu sudah terjadi dan sekarang tinggal pengembangannya. Watson misalnya, ini perusahaan sudah mengerjakan proyek – proyek artificial intelligence dengan pengembangan yang cukup maju.”

Okey, untuk Artificial Intelligence, kamu melihatnya seperti apa?

“Perlu diketahui sebelumnya bahwa arsitektur pikiran manusia sangat berbeda dengan arsitektur komputer. Kalo komputer ada storage, ada memori, ada processing yang disebut PMS (procesing memory storage). Tapi kalau otak kita, tidak bisa dikategorikan seperti itu, ini storage, ini memori dan ini processing, gak kayak gitu.. Segala hal  yang terjadi di otak kita semuanya berhubungan atau berkaitan coz its a connect room yaitu ruangan dimana segala sesuatunya bertemu. So, alat ini (otak) is actually using a very different architecture”

Jadi emulasinya juga beda-beda ya?

“Ada dua proyek dalam pengembangan artificial intelligence dengan dua emulasi yang berbeda. One way itu Watson, mereka tidak meng-emulate hardware atau platform-nya tapi meng-emulate otak manusianya yang ada dalam arsitektur, karena hal ini lah, Watson ini bagus karena its amazing machine dan mesin ini adalah komputer yang mirip seperti PC kita dan menggunakan power chip tapi ini tetap komputer dengan emulasi. Dan untuk project yang lainnya adalah yang dibuat oleh orang India yang bernama Dharmendra Modha.

Dia mencoba untuk mengemulate the actual working human brain inside the chip. Jadi chip ini berhasil di otak manusia seperti yang sudah dicoba ke otak hewan, untuk saat ini project ini memang belum sebesar Watson tapi sudah bisa melakukan sesuatu seperti platform information karena itu adalah dasar dari evolusi manusia yaitu kita sudah berada pada satu titik kemajuan.

Jadi kalo kita sudah bisa membuat platform information maka akan lebih mudah untuk memprogram artificial intelligence. Itu kata mereka loh.. saya sendiri belum pernah mencoba. So, dari dua program ini kita akan lihat dimasa depan, mana yang akan jalan duluan.

Contoh penggunaan system di syaraf kita saat ini sudah ada, seperti orang yang sudah ada alat bantu dengar yang di pasang di kuping, ada magnetnya juga dan alat ini sudah masuk ke syaraf dan berfungsi.

Nah, gimana kalau seterusnya di masa depan semuanya yang di change corteknya, orang yang buta di ganti corteknya dan kemudian bisa melihat. Dia akan berpikir, saya sama aja kaya orang lain yang bisa melihat. Karena hampir tidak ada bedanya? tapi hal ini masih jauh. Belum dalam waktu dekat. But that thing will happen dimana exo cortex yang akan mengganti fungsi utama dan yang penting dari tubuh kita”

Apa kita bisa meniru total otak manusia?

“Otak manusia sendiri sampai dengan sekarang masih menjadi misteri, masih banyak yang belum tergali, jadi yang sekarang ingin kita lakukan adalah bagaimana cara kita bisa scan otak manusia dan kita bisa mengetahui the state of the human brain (bagian) dari otak dan mengemulatenya kedalam komputer. Karena saat ini scan yang ada masih berupa fisik kaya CT Scan dan MRI.

So, kita gak bisa mendapatkan data keseluruhan hanya symptoms-nya aja yang kelihatan sedangkan efek – efek quantumnya tidak terlihat. Hal ini yang lagi dikembangkan sama Modha karena quantum bagian yang sangat kecil. In the future akan ada namanya destructive scanner mungkin ini agak sedikit menjijikan, karena otak di scan dengan cara dihancurkan satu-satu, sebagian lagi diganti dengan sesuatu, hal ini sudah sampai pada nanoteknologi, dimana ini dipasang didalam kepala dan fungsinya diganti satu persatu dan itu akan menjadi scan dimasa depan. Its fisical destructive scan.

Wow, kembali lagi ke awal. Bagaimana kamu melihat Transhumanisme?

“Aku melihat transhumanism seperti nonton film-film sci-fiction, kayak Star Trex tapi kita tidak harus mikirnya seperti itu karena dalam beberapa dekade terakhir manusia sudah banyak berubah. Toh, kita sudah menggunakan handphone, all devices. Kita semua menggunakan alat jadi kita harus mengubah pikiran kita dan kita bisa lebih baik dari sekarang.

Ngomongin soal transhumanisme artinya kita bicara soal kemajuan teknologi yang didorong oleh kecerdasan buatan dan nano teknologi yang sepenuhnya memetakan dan membangun kembali unsur biologi manusia. Dengan demikian, tubuh manusia sebenarnya dapat direkonstruksi. Fusi antara manusia dan dunia digital inilah yang kita sebut singularitas.

Transhumanisme bukan sekedar keyakinan bahwa kita dapat dan harus memberantas penuaan sebagai penyebab kematian, bahwa kita dapat menggunakan teknologi untuk menambah kemampuan tubuh dan pikiran kita. Tapi ini visi besar dimana kita justru bergabung dengan mesin, membentuk kembali diri kita sendiri untuk mencapai kemanusiaan yang lebih tinggi. Coba bayangin saat kita sudah menjadi

Transhumanism dan sudah ter-Augmentasi dengan sangat besar dengan diri kita, maka kita bisa melakukan banyak hal hal baik. Seperti kita bisa menghentikan penderitaan manusia, mencegah kelaparan, meniadakan perang dan kita akan sanggup memecahkan solusi permasalahan, baik ekonomi, budaya, sosial politik dan semua hal hal yang mengganggu kemajuan dunia

Demikianlah percakapan techfor.id bersama Pandu Sastrowardoyo. Pada akhirnya Transhumanisme bisa menjadi sebuah kepercayaan yang tidak bisa disebut ilusi karena dunia sudah memberi pra-kondisi agar memungkinkan hal tersebut terjadi. Mau meyakininya sebagai sebuah keniscayaan? Atau sekedar utopia para pegiat AI? Itu tergantung pada sudut pandang kita masing-masing. Kita sudah hidup dalam arus perubahan yang terus menerus datang dengan berbagai temuan temuan baru. Tertinggal atau maju? Silahkan tentukan sendiri.(

Share.

4 Komentar

  1. Warsidah on

    Tulisan yang apik….Transhumanisme, sesuatu yg secara tak sadar sdh terjadi di era skrg.

  2. Anindita on

    Wuih ngeri… Sebenarnya batasannya apa sih bisa disebut transhumanism?
    Apakah kalau teknologi yang alat bantu dengar atau alat pacu jantung itu bisa termasuk transhumanism?

Tanya Sesuatu Pada Narasumber & Komentar