Mengenal Lebih Dalam Tentang Blockchain

7


Gaung Industri 4.0 begitu menggema di seantero Indonesia. Revolusi industri keempat ini adalah besarnya pengaruh perkembangan teknologi yang menciptakan kecerdasan buatan (AI), robotika, teknologi nano dan blockchain yang secara drastis memengaruhi individu, perusahaan, dan pemerintah yang beroperasi. Yang terakhir disebut di atas, disebut-sebut sebagai teknologi yang dapat memecahkan banyak masalah di berbagai industri bisnis. Tak heran jika blockchain termasuk teknologi baru yang sedang digencarkan oleh pemerintah agar dapat segera diadopsi oleh banyak pelaku industri di Indonesia.

Karena dukungan pemerintah itulah, banyak perusahaan blockchain hadir di Indonesia. Beberapa diantaranya justru diprakarsai oleh pemikiran seorang wanita Indonesia bernama Pandu Sastrowardoyo. Lewat sesi interview eksklusif dengan TechForID, Pandu membeberkan kisahnya memimpin masuknya blockchain di Indonesia.

Pendapat tentang Hara?

Yang terkenal itu menggunakan blockchain dengan baik. Soalnya ada banyak yang memaksakan untuk jadi blockchain dan justru jadinya berat IT solution nya. Kalau dari aku sendiri, proyek – proyek mengatasnamakan blockchain itu cuma 20-30% yang pakai blockchain. Kenapa? Karena blockchain itu sendiri bukan teknologi yang cocok di semua use case. Dari teorinya aja, a blockchain is basically, has multiple nods, that helping the system, maintain the truthfulness of the of the legit. Jadi, semua node itu aktif untuk making turn of all the transaction noted down, everything is correct, no one is doing any tampering with with the previous data. Ketika itu dilakukan, server yang dibutuhkan lebih banyak dari server yang digunakan. Analoginya, kita semua yang ada di meja ini harus catat data yang masuk. Berarti datanya ada 4 kali lipat, dan itulah jumlah storage yang harus ada. Jadinya, kalau semua aplikasi di full blockchain kan, akan selalu menambah jumlah storage yang dibutuhkan. Belum lagi dari segi completing power, complicated network nya segala macem, nanti sampai di satu titik tidak terlalu bagus hasilnya.

When we doing blockchain solution, pasti mix. Misalnya kita di tepi tradisional, kita tembak semua database nya, tapi semua data yang masuk dimasukkan ke hash table, dan ditaruh di atas blockchain. Karena hash itu bisa dikontrol ukurannya, anggap aja kayak video. Misalnya mau bikin video Youtube di blockchain, kalau disebar kan berat. Jadi, biasanya untuk data unstructure kayak video, foto, pdf, dan lain-lain akan kita load dalam database biasa, kemudian kita ambil hash nya, hash itu kita masukkan ke sebuah tabel, tabel tersebut ada di dalam blockchain. Karena hash table tidak bisa diubah, kalau ada database yang masuk salah, akan keluar peringatan atau tag nya kalau itu salah tidak sesuai dengan yang ada di hash. At the end of the day, tiap bikin proyek blockchain, selalu harus mix-term.

Satu lagi tentang analytics, it’s a bit difficult. Karena dari segi computing power dan lain – lain sebenarnya bisa tapi it’s a lot about the computation, which one to compute and which not to compute. Aku kasih perbandingan itu Hadub. Hadub itu mirip-mirip blockchain. Kita search di Google, disebar ke banyak node, tapi ternyata beda dengan blockchain. Karena pas masuk, masuk ke name node nya dulu. Name node ini yang mengalokasikan pieces of the data to multiple nodes. Jadi beda dengan blockchain. Data masuk di blockchain akan langsung di copy ke semua nodes. Sedangkan kalau Hadub, data dari 100 GB, akan dipotong jadi 1 GB semua baru dikirim ke masing-masing nodes. Makanya susah kalau mau di full in jadi blockchain solution.

If you want to do real analytics with blockchain, itu ditaruh di luar blockchain nya, blockchainnya hanya digunakan untuk ngejagain supaya data ini tidak ada yang ngubah. There’s something inherit about the architecture of a blockchain that help keep the fact secured and untamperable, but also there’s something in the architecture of a blockchain that prohibit it from doing several fix, salah satunya seperti yang Hadub itu tadi. Karena dia memiliki karakteristik yang beda banget.

Ini kita baru ngomongin topologinya, belum ngomongin struktur datanya sendiri. Kalau ngomongin database, itukan datanya diciptain di dalam tabel-tabel tersebut, kemudian kita enkripsi kan di luarnya. Dulu waktu aku masih kerja di IBM sering denger orang bilang blockchain sama kayak encript database, aku bilang tidak. Karena database itu table kita encript. Sedangkan blockchain, struktur datanya sendiri terbuat dari enkripsi. Inget blockchain berasal dari kata block dan chain. Jadi ada data, di isi ke dalam satu block, sampai penuh kemudian kita enkripsi satu block, jadi hash, dan kita masukkan hash itu ke dalam block selanjutnya. Makanya blockchain itu datanya berasal dari enkripsi-enkripsi.

You can make multiple layers of encryption on a database. But with a blockchain, if you want to create multiple layers of encryption itu udah dead gate. Karena data yang makin jadul, dia udah melewati beberapa kali enkripsi. Sedangkan data paling baru, enkripsi nya lebih sedikit.

Jadi, kalau kita liat data jadul atau sekarang yang lebih berharga? Ya.. data jadul karena itu jadi basis untuk data yang sekarang. Itulah alasannya analytics cocok dengan arsitektur yang lahir karena blockchain because they are very very about new data. Emang bisa digabungkan sih. Very interesting sebenernya

Orang-prang harus paham dulu banget ya tentang blockchain sebelum menggunakannya?

Untuk teman-teman di luar sana, sederhananya harus tau dulu blockchain itu bagus untuk beberapa use case aja.

Bagusnya untuk apa?

Yang pertama untuk computing interest. Jadi, orang kerja sama tapi punya agenda berbeda – beda. Contoh agensi pemerintah, mereka harus kerja sama tapi kepentingannya beda-beda, yang satu koperasi yang satu lingkungan. Terus KTP dan SIM, sama-sama identitas, mirip, tapi tidak sama persis. Kalau di perusahaan, ada pabrik, ada logistik, itu punya kepentingan sendiri-sendiri karena tidak mau disalahin. Misal ada barang hilang jangan sampai di gue. Itu bisa diatasi dengan IT, caranya salah satu pihak jadi shuttle server atau masing-masing pihak punya shuttle server sendiri dan datanya bisa beda-beda. Contoh retail industri, ada satu supermarket di Asean, cukup gede, dengan vendor-vendor kecil di dalamnya. Setiap 1 tahun sekali dilakukan audit, dan kalau ada kesalahan atau barang kurang, yang disalahin selalu vendornya bukan supermarketnya. Ini kan tidak adil ya, supermarket sebagai central party, yang punya cloud jadi yang dipercaya untuk audit, sementara vendor-vendor kan punya catatan data sendiri juga. Ada paper trail sih, tapi kan suka dobel-dobel.

Kalau dilihat baik-baik, itu isu yang bisa diatasi dengan blockchain. Blockchain itu membantu masing-masing pihak megang server sendiri, megang blockchain sendiri, dan dijaga agar tidak ada yang bisa mengubah datanya. Blockchain is an application of game theory sebenarnya, saat aku mau ngubah data di blockchain ku, akan muncul notifikasi di blockchain lain kalau data ku salah. Blockchain juga memaksa kita untuk percaya sama orang yang tidak kita lihat karena dengan punya note masing-masing, kita tidak ubah datanya, note di tempat lain pun tidak berubah. Kalaupun ada yang ngubah, semua akan bilang data itu salah. Inilah social control dalam sebuah masalah, dimana menyelesaikan masalah trust. Jadi, blockchain bukan untuk menyelesaikan masalah transaksi, banyak yang jauh lebih cepat untuk mengatasi masalah transaksi, tapi blockchain cocok untuk certain use case yang mau diselesaikan dari segi trust nya.

Ada hal unik soal pendapat blockchain yang disebut-sebut bisa mengatasi masalah transaksi?

Buku yang kutemui di Big Bad Wolf bilang kalau blockchain akan mengatasi semua jenis masalah transaksi. Bukunya memang cuma membahas blockchain dari segi transactional dan bitcoin aja. This is funny, all the transactional methods in banking has to do with performance. Jadi, kalau liat blockchain sebagai transaksi, tidak harus terkait dengan performance.

A blockchain solution is very very good in performance. Memang dibutuhkan juga di banyak tempat. But when we’re figuring a blockchain solution, kita harus liat kenapa harus ada blockchain nya. Kenapa tidak pakai teknologi biasa.

Contohnya, banyak yang suka nanya kenapa Kendi harus pakai blockchain, padahal bisa aja pakai shuttle server lain. Kendi bisa megang sendiri datanya, bisa ngubah-ngubah sendiri datanya, itu bisa aja kok sebenarnya. Tapi kita tidak mau kayak begitu, harus menciptakan trust. Pada satu saat ada masalah terkait pinjaman di Kendi, kita bisa bilang bahwa kita tidak bisa ngubah datanya, secara teknis maupun matematis tidak bisa kita ubah datanya.

Level keduanya, untuk pengembangan Kendi ke depannya, untuk membantu sharing antar agensi pemerintahan. Secara teoritis, kalau nanti kita kerja sama dengan Kemkominfo, mereka bisa liat data-data yang ada di bawahnya, seperti data dari Diskominfo Solo atau Jakarta, tanpa mereka perlu nyimpan datanya sendiri. Jadi, pengembangannya that level of trust can be expanded to multiple parties that need the data.

Share.

7 Komentar

  1. Mengapa orang orang harus paham terlebih dahulu memahami blockchain sebelum menggunakannya ?

  2. muhammad ayasy el aziz on

    Menarik sekali artikelnya, Semakin menambah wawasan mengenai sistem blockhain

Leave A Reply