Kenali Sosial Media yang Cocok Untuk Bisnismu, Sebelum Beriklan!

0

Di era teknologi seperti saat ini, berjualan tidak bisa hanya mengandalkan offline. Karena 64% penduduk Indonesia sudah melek teknologi. Dalam sehari rata-rata menghabiskan 3 jam 26 menit untuk bermain media sosial. Tentu akan menjadi nilai tambah jika pebisnis merambah internet khususnya media sosial, untuk berjualan atau beriklan.

Tapi, berapa presentase budget yang harus dihabiskan untuk beriklan di media sosial? Dan sebaiknya di media sosial apa yang paling efektif untuk berjualan, mengingat ada banyak sekali media sosial? Bayu Ramadhan, VP Brand & Marketing MOKA memberikan pandangannya khusus untuk teman-teman TechforID!

Banyak perusahaan startup yang mempromosikan lewat online. Sosial media Apa yang paling bagus untuk promosi?

Sumber foto: mysimpletricks.com

Tergantung dari bisnisnya. Kunci dari kesuksesan marketing itu paham betul produknya apa dan marketnya mau ngebaca konten apa dan mereka butuhnya apa.

Sebagai contoh, kalau B2B secara teori atau awam, B2B dipastikan adalah Linkedin. Tetapi, Jika semua tim di Moka textbook, ya, spend money di LinkedIn Ads saja. Tapi nggak worth it. Karena pas di riset, temen-temen entrepreneur nggak peduli profil di LinkedIn.

Sebenernya mereka micro influencer juga untuk segmennya Moka. Misal foundernya Eatlah atau dua coffee yang kakaknya Raissa, atau founder kulo, mereka di akun pribadi instagramnya punya banyak followers dan Rata-rata entrepreneur. Makanya, menjadikan mereka ambassadornya Moka. Itu berlaku untuk Moka. belum tentu untuk yang lain, bisa beda. Secara general FB sama ig paling bagus. Tapi kalo bisnisnya B2B banget, entreprise banget bisa LinkedIn, atau mungkin B2C bisa Twitter. Jadi tergantung bisnisnya lagi.

Untuk beriklan di offline dan online, berapa komposisinya?

Secara budget, online lebih besar. Karena lebih straight forward. Keliatan lah kita spend berapa dan dapetnya berapa kalo di online dibandingkan dengan offline. Cuma saya nggak mengabaikan offline karena penting buat naikkin brand awareness. Walaupun nggak bisa di track, yang online ini pasti pernah juga liat kita di offline, entah itu event atau dari temen yang udah pernah dateng ke acara kita. Jadi kalo secara budget 80% di online dan 20% offline.

Secara effort yang offline ini bener-bener lebih karena saya encourage tim saya kalo kita tuh bisa buat 27 acara dalam tiap kuarter dan itu banyak banget loh, dengan budget yang nggak terlalu banyak karena kolaborasi. Ada banyak temen-temen yang mau sponsorin kita dan bikin kita malah untung kalo ngadain acara. Secara effort, kalo mau dapet lebih banyak sponsor ya pasti lebih besar. Secara budget banyakan online tapi secara effort banyakan dibuang di offline. Karena banyak yang harus kita maintain kolaborasinya kalo di offline

Cara beriklan di offline?

Hard selling di event. Kita aktif tap in ke event-event yang sangat relevan buat kita. Jadi tiap kuarter ada aja event yang kita rela spend duit, spend budget lumayan besar buat masuk kesana. Tapi sisanya buat community kita lebih banyak dapet sponsor dari pihak lain. Nah cara lain offline ada yang namanya Moka stand. Jadi tatakan laptop Moka yang bisa diputar 180 derajat. Walaupun cuma tatakan tablet yang benda mati, kami beneran ngecek tau Moka darimana. Dan ternyata porsinya sangat besar dari liat tablet holder Moka di kasir. Product placement ternyata juga sangat berpengaruh meskipun produk kita software tapi kita nnggakalin tablet holdernya..

Secara offline ada juga skema referral. Buat temen-temen bisnis owner yang punya pengalaman bagus pake Moka, mereka bisa refer Moka ke temen-temen nya secara offline dan dapet benefit dari tiap merchant lain yang pake Moka. Meskipun simpel tapi impact yang mereka berikan buat Moka juga besar.

Bagaimana cara mempercepat strategi marketing?

Pertama kita harus tau dulu kita ngomong sama siapa. Karena dari sebelum saya pindah ke Moka, saya melihat ini tantangan banget karena ini adalah B2B banget. Bisa dibilang 2 bulan pertama itu saya habiskan bukan buat keluarin semua campaign yang saya tau, tapi belajar dulu produk Moka ini apa dan merchant nya apa aja, konsumenya gimana. Jadi fokus utama FGD dulu. Ketemu dan ngobrol sama mereka percayanya apa, bacanya apa setiap hari, lewat apa, mereka dengerin radio nggak, mereka liat billboard nggak, mereka percaya nggak sih sama artis kalo jadi brand ambassador.

Ternyata segmen ini unik, dulu saya sama tim hampir ngejadiin salah satu artis yang punya coffee shop dan jadi bintang di film terkenal buat jadi brand ambassador dengan budget yang besar.

Untungnya kami riset duluan, merchant Moka nggak percaya sama artis, mereka justru lebih percaya sama bisnis owner yang lebih sukses dari mereka dan adanya di kota mereka. Untungnya kita inisiator dan market leader di industri ini, jadi pemain besar di tiap kota udah kita pegang. Akhirnya itu jadi strategi Moka gimana caranya kita bisa cepet brand berkembang karena kita tau segmen kita dengernya apa dan kita produce konten dari situ

Dulu sangat hard selling. Kami POS nomor satu di Indonesia, merchant kami ada 15.000 saat itu. Atau misalnya lagi ada diskon apa. Ternyata orang itu bosen kalo dikasih materi begini karena semua orang juga begitu. Sekarang kami justru menyediakan panggung pada merchant-merchant kami bahwa yang hebat itu mereka bukan Moka. Orang juga akan tau orang-orang hebat ini percayanya sama Moka, berarti Moka ini juga hebat dong. Karena kalo Moka jelek, mereka juga nggak akan percaya sama Moka.

Jadi perspektifnya yang kita ubah. Kita bukan lagi buktiin betapa hebatnya kita, tapi ini merchant-merchant hebat yang berhasil kembangin bisnisnya dan mereka percaya dengan Moka.

Share.

About Author

Techfor Id

Leave A Reply