Stop Bakar Uang! Begini Cara Startup Bisa Sukses dan Untung

4

Hayoo!’ Siapa yang tidak suka dengan promo? Baik laki-laki maupun perempuan, tua hingga muda, selalu tertarik untuk memanfaatkan berbagai promo. Apalagi di era sekarang, promo seakan membanjiri kehidupan kita dengan kehadiran startup-startup yang semakin memudahkan permasalahan hidup kita.

Sayangnya, ada pil pahit yang ditelan para startup dari memberikan promo-promo dalam rangka menarik pelanggannya. Banyak startup raksasa yang harus merampingkan usahanya hingga gulung tikar akibat tidak kuat bersaing dalam segi promo.

Tengok Zomato, startup aggregator restoran asal India yang di tahun 2019 ini telah melakukan 2 kali perampingan karyawan.

Putaran pertama memakan korban sebanyak 60 karyawan dan putaran kedua memberhentikan 540 karyawan. Bukan cuma hengkang dari Asia Tenggara, Uber juga memberhentikan 435 karyawan, masing-masing dari tim teknik dan produk usai mengalami kerugian senilai US$5,24 miliar sepanjang kuartal II/2019. Meskipun meraup untung US$3,17 miliar.

Uber tetap tidak mampu bangkit akibat konsep bakar uang alias memberikan promo untuk menarik pelanggan.

Tempat Kursus Komputer Terbaik | Digital Marketing, Programming, SEO, Dll.

Dari dalam negeri sendiri ada Qlapa yang resmi gulung tikar karena tak mampu bersaing. Padahal startup ini memenangkan sejumlah penghargaan bergengsi, mulai dari Aplikasi Unik Terbaik dari Google Play Awards dan startup dengan pertumbuhan paling menjanjikan oleh majalah Forbes Asia.

Lantas, Apakah startup ini hanya sekadar tren dan akan mati di kemudian hari? Jika tidak, bagaimana cara startup agar bisa bertahan selain memanfaatkan metode bakar uang dengan promo untuk menarik pelanggan?

Simak pandangan Bayu Hartoko, Head of Marketing and International Channel Indigo.id di bawah ini, yuk!

Untuk Startup yang sedang booming. Menurut Bapak itu akan awet atau hanya musiman?

Kita nggak mau jadi bubbling ya. Kita investor itu trust startup tapi startup ternyata burning money too much terus nggak sukses terus apa yang digelontorkan oleh investor itu nanti nilainya nggak sesuai dengan value dari startup.

Kita ambil contoh dari luar, bukan dari Indonesia karena jangan sampai kejadian di Indonesia, WeWork itu kemarin berani ngeklaim nilai dia berapa ternyata turun jadi berapa. Kita nggak ada expert di sini bahkan brancher capitol juga lagi belajar kan.

Tapi intinya saya rasa, saya lebih ingin mengomentari bagaimana startup seharusnya. Literatur dan berita silahkan dibaca tapi pengalaman kami dalam mengelola 146 startup ini, saya bisa narik kesimpulan satu.

Dulu saya tarik kesimpulan kalau produk itu nomer satu. Produk lo keren, lo berhasil. Ternyata itu kurang valid. Ternyata foundernya. Dengan semangat founder yang tinggi dan keterbukaan founder dalam menerima segala dinamika, itu produk akan mengikuti. Ini nggak sedikit startup yang foundernya terlalu cinta sama produk dan merk produk, sampai lupa bahwa sebenarnya dapat duit dan keberhasilan itu dari customer.

Jadi setiap saat itu harus mendengarkan maunya customer itu seperti apa. Walaupun saya nggak punya startup, tapi saya cukup bisa menyimpulkan karena telah berinteraksi dengan banyak startup. Saya paham kalau kita udah mati-matian mengeluarkan produk sampai nggak tidur dan menggelontorkan duit ternyata produk itu nggak valid.

Kita nggak suka kalau dibilang nggak valid karena udah mendedikasikan waktu kita untuk itu. Founder yang bagus adalah yang siap menerima kenyataan kalau customer bilang nggak valid dan harus agak belok ke kanan sedikit, ya harus ikut belok juga.

Jadi kalau mau launch produk everything is in beta version nggak pernah ada final version karena market itu selalu ter-update dengan teknologi baru, kebutuhan baru, dan problem yang baru. Founder yang bagus dan akan memiliki startup yang berhasil adalah founder yang bisa beradaptasi dengan itu. Yang bisa meeting kapanpun dengan customer dan jarang menolak, siap berubah.

Saya dulu mikir produk itu nomer satu, ternyata founder itu nomer satu. Leader itukan ibarat bandul. Founder gerak dikit, pasukannya malah gerak banyak. Jadi harus agile.

Jadi founder harus membina?

Iya Betul! dan. Saya titip pesen juga dalam dunia startup itu kita liat yang berhasilnya terus ya. Unicorn ini top dan lain-lain.

Pertama mereka nggak pernah liat yang viral, misal ada orang berdiri di ujung tangga dan keliatannya sukses banget. Padahal dia nggak liat kalau ada banyak paku di tangga lain sebelum sampai ke tangga ujung. Kakinya berdarah dan lain-lain demi naik ke atas. Itu kalau yang berhasil karena 95% itu gagal, justru itu yang nggak pernah kita soroti.

Ini lesson learned juga buat kita bahwa modul startup itu nggak semua yang berhasil yang diundang sebagai pemateri, tapi perlu disisipkan juga yang gagal. Permasalahannya yang gagal itu sulit kita ajak ngobrol. Udah terlanjur sedih.

Berarti banyak startup yang turun terus mati?

Banyak. Sebagian besar.

Apakah mereka bakal bangkit bikin startup baru?

Sebenarnya saya nggak ingin ngomong ke arah sana.

Tapi gini, semua tergantung mental kan. Saya nggak megang data, hanya saja misal ini startup yang di Jakarta mereka siap gagal atau nggak. Kalau misalnya bener-bener susah dapat duitnya, mereka akan hati-hati. Tapi saya juga kenal ada beberapa yang memang pada dasarnya uangnya udah ada, jadi kalau gagal pun ada safety net.

Ada startup yang kita bina, dulu sempet gagal tapi sekarang berhasil dan berencana untuk IPO. Itu semangatnya si founder kan. Sehingga nggak tau kadang-kadang fair atau nggak. Yang kalau kita prioritaskan saat liat startup itu foundernya siapa. Kalau udah tau foundernya itu, kita percaya sentuhan tangan dia dan semangatnya dia seperti apa.

Makanya tadi berulang-ulang paling penting itu founder. Mungkin bakal ada yang tidak sepakat dengan saya tapi itu yang saya alami 3 tahun ini selama berhadapan dengan 146 startup.

Share.

About Author

Techfor Id

4 Komentar

  1. Pingback: Ini Dia 6 Dampak Negatif Fintech! | TechForID TechForID

  2. Pingback: Keuntungan Startup yang Bisa Kamu Dapatkan | TechForID

  3. Pingback: Cara Memulai Bisnis Startup | TechForID TechForID

  4. Pingback: Startup yang Potensial di 2020, Siapa Saja Mereka? |

Leave A Reply