Tips Menghindari Kegagalan Dalam Menjalankan Bisnis Startup

3

Banyak kisah sukses startup di Indonesia, misalnya ada Gojek yang mencatatkan diri sebagai Decacorn dengan valuasi sebesar 10 miliar dolar Amerika atau setara dengan 142 triliun rupiah. Tidak hanya itu Gojek juga mengukir prestasi menjadi satu-satunya industri startup di Asia Tenggara yang masuk ke dalam deretan 56 perusahaan yang mengubah dunia versi majalah Fortune yang rilis tahun 2017.

Hal tersebut bisa dicapai karena Gojek memiliki banyak cabang usaha tidak hanya berputar di moda layanan transportasi saja. Sebut saja pada akhir tahun 2016 Gojek merambah ke sektor fintech (financial technology) dengan meluncurkan Gopay. Gopay terbentuk setelah sebelumnya mengakuisisi perusahaan fintech bernama Ponselpay.

Kemudian pada bulan Agustus 2017 Gojek berhasil mengakuisisi LOKET yakni perusahaan yang bergerak di bidang event management dan ticketing. Hasil daripada ini membuat Gojek berhasil merilis fitur lainnya yang disebut Gotix. Dengan fitur-fitur tersebut tidak heran Gojek bisa sesukses sekarang.

Baca Juga :

Beralih pada sektor e-commerce, di Indonesia kita mengenal Tokopedia. Tokopedia mampu membaca peluang di tengah menjamurnya toko online, awalnya hanya menjadi penghubung antara konsumen dan pelaku usaha toko online tetapi sekarang memiliki berbagai fitur untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan pembayaran secara online hingga investasi.

Bahkan Tokopedia mempunyai dua jenis fitur investasi di dalam “toko”-nya yakni reksadana dan nabung emas. Dengan banyak fitur yang ditawarkan dan kemudahan yang diperoleh penggunanya membuat Tokopedia mempunyai valuasi dengan nilai yang fantastis yakni mencapai 100 triliun rupiah.

Kursus Internet Marketing

Berkaca pada kesuksesan yang ditorehkan oleh Gojek dan Tokopedia membuat banyak orang tertarik untuk membangun usaha rintisan atau startup. Tapi pada kenyataannya sekitar 90% usaha startup berujung pada kegagalan.

Tempat Kursus Komputer Terbaik | Digital Marketing, Programming, SEO, Dll.

Menurut Thomas R. Eisenmann, seorang profesor Manajemen Kewirausahaan dari Harvard Business School, menyatakan kegagalan startup adalah karena banyak dari mereka para pelaku usaha membuang waktu dan uang untuk membuat produk yang salah tanpa sebelumnya menyadari produk apa yang seharusnya mereka buat.

Kemudian berdasarkan kegagalan ini CB Insight melakukan analisis mengenai sejumlah faktor yang dapat membuat sebuah usaha rintisan gulung tikar. Melalui hasil analisisnya CB Insight kemudian menyatakan 20 alasan mengapa sebuah usaha rintisan kolaps dan bangkrut.

Presentasi paling tinggi adalah karena startup membuat produk yang sebenarnya tidak dibutuhkan pasar lalu disusul dengan alasan kekurangan modal usaha.

Baca Juga : Contoh Startup yang Layak Diperhitungkan Sebagai Startup Potensial 2020, Siapa Saja Mereka?

4 Strategi Menghindari Kegagalan Dalam Membangun Startup!

Melihat faktor-faktor kegagalan tersebut sebetulnya para pelaku usaha rintisan dapat belajar dan memikirkan strategi bisnis lain yang membuat bisnisnya berkembang. Berikut ini adalah beberapa tips untuk menghindari kegagalan saat tengah merintis usaha startup:

1. Melakukan Riset Pasar Yang Matang

Riset pasar adalah sebuah usaha mengumpulkan informasi mengenai target pasar yang akan dituju. Dari usaha ini seorang pelaku usaha dapat mengetahui jumlah dari konsumen yang menjadi target pasarnya dan mengenali karakternya dalam berbelanja atau menggunakan layanan tertentu.

Melalui riset pasar juga pelaku usaha dapat memperkirakan apakah produk yang akan diluncurkan ke pasaran adalah sesuatu benar-benar yang dibutuhkan oleh konsumen yang dituju. Selain itu pelaku usaha juga dapat menganalisis jumlah pesaing yang akan ditemui saat bisnis dijalankan.

Baca Juga :

2. Mengelola Keuangan Yang Baik

Salah satu kegagalan yang ditemui oleh pelaku usaha rintisan menurut analisis CB Insight adalah kekurangan uang. Oleh karena itu memiliki sistem keuangan yang baik dan berkelanjutan merupakan fondasi dalam menjalani bisnis startup.

Sistem keuangan yang baik dapat dimulai dengan pencatatan cashflow yang terorganisasi dengan baik. Dengan sistem pencatatan yang teratur pelaku usaha dapat mengevaluasi setiap penggunaan modal yang dikeluarkan apakah memiliki output yang bagus atau lebih baik ditekan untuk pembelanjaan selanjutnya.

Hal lainnya yang perlu diperhatikan adalah pelaporan pajak. Jangan sampai usaha anda menunggak pajak hingga beberapa waktu karena akan menghambat aktivitas keuangan kedepannya. Membuat rencana bisnis (business plan) juga tidak kalah penting saat menjalankan bisnis. Business plan biasanya berisi strategi-strategi bisnis yang dilakukan untuk mencapai tujuan dari bisnis itu sendiri.

Baca Juga ; Ingin Bangun Startup? Wajib Perhatikan Manajemen Startup?

3. Membentuk Tim Yang Solid

Kerjasama tim yang buruk saat menjalani bisnis startup adalah salah satu alasan sebuah bisnis bubar sebelum mencapai tujuan. Maka dari itu membentuk tim yang solid untuk perusahaan startup merupakan hal penting yang menunjang keberlangsungan bisnis. Sebuah usaha startup tidak harus langsung mempunyai banyak karyawan.

Ada baiknya seorang perintis memulainya dari founder dan co-founder terlebih dahulu. Founder dan co-founder merupakan fondasi dari sebuah bisnis sehingga hubungan diantara keduanya haruslah sejalan secara visi dan misi.

Kemudian pada saat merekrut karyawan, pelaku usaha harus memaksimalkan seleksi sehingga yang terpilih adalah kandidat yang dipercaya mampu memberikan kontribusi yang berdampak bagi kelangsungan bisnis.

Dalam prosesnya libatkan karyawan dalam proses pelatihan dan workshop yang menunjang pengembangan skill-nya sehingga dapat memberikan kontribusi.

Baca Juga : Dampak Startup di Indonesia Terhadap Industri Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM)

4. Membuat Model Bisnis Yang Tepat

Model bisnis yang efektif dapat membantu suatu usaha rintisan untuk terhindar dari kegagalan. Salah satu caranya adalah dengan menerapkan metode lean startup yang dikemukakan oleh Profesor Thomas R. Eisenmann.

Pada metode ini sebuah startup dianjurkan untuk memfokuskan diri pada peluncuran produk inti yang sesuai dengan kebutuhan pasar dan tidak menggelontorkan sumber daya untuk hal-hal yang sebenarnya belum perlu dilakukan untuk bisnis yang sedang dijalani, model bisnis ini kemudian dikenal sebagai Minimum Viable Product (MVP).

Metode ini seperti test-drive dalam melaksanakan aktivitas usaha, hal yang dapat diambil pada metode ini adalah tanggapan dari konsumen.

Dengan mengetahui kiat-kiat dalam menghindari kegagalan dalam bisnis startup tentu banyak pelajaran yang dapat diambil sehingga memaksimalkan strategi dalam menjalankan bisnis.

Berikutnya Baca :

Sumber :   https://id.techinasia.com/edu/90-persen-bisnis-startup-gagal-ini-tip-mencegahnya/

Share.

About Author

Techfor Id

3 Komentar

  1. Pingback: Deretan Startup E-commerce Indonesia, Dari Baru Sampai yang Sudah Besar |

  2. Pingback: Kendala Pada Startup yang Dapat Kamu Jadikan Sebuah Pelajaran |

  3. Pingback: Sejarah Startup | TechForID TechForID Sejarah Startup

Leave A Reply