Yakin Kamu Jago Desain ? Tau Apa itu Teori Gestalt?

0

Apa itu Teori Gestalt ?

Teori Gestalt atau biasa dikenal dengan Gestalt Principle adalah sejenis hukum atau aturan dalam dunia psikologi yang muncul di tahun 1920an. Gestalt menggambarkan bagaimana manusia biasanya melihat objek dengan mengelompokkan elemen yang serupa, mengenali pola dan menyederhanakan gambar yang kompleks.

Desainer menggunakan ini untuk menarik pengguna dengan menghadirkan desain yang memiliki perspektif unik dan kuat.

Sejarah Munculnya Teori Gestalt

Teori Gestalt dibangun oleh tiga orang yaitu Kurt Koffka, Max Wertheimer, and Wolfgang Köhler. Mereka menyimpulkan bahwa seseorang cenderung mempersepsikan apa yang terlihat dari lingkungannya sebagai kesatuan yang utuh.

Teori gestalt banyak dipakai dalam proses desain dan cabang seni rupa lainnya, karena banyak menjelaskan bagaimana persepsi visual bisa terbentuk. Persepsi jenis ini bisa terbentuk karena beberapa kedekatan posisi yaitu :

  • Kesamaan bentuk (similiarity)
  • Penutupan bentuk
  • Kesinambungan pola (continuity)
  • Kesamaan arah gerak (common fate).

Faktor dari kedekatan posisi inilah yang menyebabkan kita sering bisa merasakan keteraturan dari pola-pola yang sebenarnya acak. Misalnya saat seseorang melihat awan, dia dengan mudah bisa menemukan bentuk muka seseorang ( pragnan).

Baca Juga :

Berawal dari karya tulis Max Wertheimer (1912) dari Jerman, juga psikolog Koffka (1935) dan Kohler (1940) juga oleh J.B. Watson dari Amerika (1913)

 istilah “gestalt” dalam bahasa Jerman sebenarnya sulit diterjemahkan ke bahasa-bahasa lain, tapi bisa diterjemahkan sebagai “shape”; “form”; “configuration”; “pattern”, atau “bentuk”; “hakekat”; “esensi”; “totalitas” karena susah diterjemahkan secara pas, maka disepakati untuk tetap menggunakan istilah yang original yaitu “Gestalt”. Terori gestalt mempunyai Prinsip dasar

Jenis-Jenis Teori Gestalt

1. Proximity (kedekatan)

Sebuah kesatuan atau pengelompokan yang terbentuk karena adanya elemen-elemen yang saling berdekatan. Contohnya adalah Pandangan mata akan cenderung melihat dua kotak yang saling berdekatan sebagai satu kelompok. Kita tidak melihat kotak ke-2 dan ke-3 dari kiri sebagai sepasang karena berjauhan.

Baca Juga : Tugas dan Tanggung Jawab UX Researcher Yang Wajib Kamu Tahu!

2. Similarity (kemiripan)

Objek yang sama akan terlihat secara bersamaan sebagai kelompok. Hal ini dapat ditentukan lewat bentuk, warna, tekstur, ukuran, maupun arah (misal sekelompok ikan/burung yang bergerak searah). Contahnya adalah

Kita akan melihat objek-objek dalam barisan/row mendatar, bukan dalam kolom secara vertikal.

3. Closure (ketertutupan)

Kita lebih menyukai bentuk yang tertutup/complete atau menyambung daripada yang tidak/incomplete. Contohnya adalah Melihat gambar di atas, kita akan secara mental menyambungkan garis2 yang putus2 dan melihat gambar bentuk bebek & lingkaran secara menyeluruh.

4. Continuity (kesinambungan)

Penataan visual yang dapat menggiring gerak mata mengikuti ke sebuah arah tertentu. Contohnya adalah Kita akan melihat satu garis lurus dan sebuah garis lengkung melewatinya. Kita tidak akan melihat gambar tsb terdiri dari dua bagian seperti di gambar kanan.

Baca Juga : Mengenal Perbedaan UI/UX Desain!

5. Symmetry (simetri)

Kecenderungan untuk menata stimuli ke dalam bentuk2 yang sama dan sebangun. Contohnya Mata cenderung melihat sebagai deretan 6 bentuk daripada deretan 12 bentuk.

6. Simplicity (kesederhanaan)

Prinsip yang mencakup ke-5 prinsip Gestalt sebelumnya, menyatakan bahwa manusia secara intuitif cenderung memilih pengorganisasian yang paling simple/sederhana atau paling stabil.

Contoh: Gambar di atas dapat dipersepsikan beberapa macam: 3 lingkaran yang bertumpukan; 1 lingkaran utuh dan 2 lingkaran yang terpotong di bagian kanannya; atau tampak atas dari tiga objek silinder 3-Dimensi. Prinsip simplicity menyatakan bahwa anda akan melihat gambar tsb sebagai 3 lingkaran yang bertumpukan, karena itulah persepsi yang paling sederhana

Baca Juga : Ingin Desain UX Aplikasi Androidmu Optimal ? Simak 4 Point Penting Berikut!

Hukum-Hukum Teori Gestalt

Dalam hukum-hukum belajar Gestalt ini ada satu hukum pokok , yaitu hukum Pragnaz, dan empat hukum tambahan  (subsider) yang tunduk kepada hukum yang pokok itu,yaitu hukum –hukum keterdekatan , ketertutupan, kesamaan , dan kontinuitas.

Hukum Pragnaz

Hukum Pragnaz ini menunjukkan tentang berarahnya segala kejadian , yaitu berarah kepada Pragnaz itu, yaitu suatu keadaan  yang seimbang, suatu Gestalt yang baik. Gestalt yang baik , keadaan yang seimbang ini mencakup sifat-sifat keturunan, kesederhanaan ,kestabilan, simetri dan sebagainya.

Medan pengamatan ,jadi juga setiap hal yang dihadapi oleh individu, mempunyai sifat dinamis, yaitu cendrung untuk menuju keadaan Pragnaz itu , keadaan seimbang.

Keadaan yang problematis adalah keadaan yang tidak Pragnaz, tidak teratur, tidak sederhana, tidak stabil, tidak simetri , dan sebagainya dan pemecahan problem itu ialah mengadakan perubahan kedalam struktur medan atau hal itu dengan memasukkan  hal-hal yang dapat membawa hal problematis ke sifat Pragnaz.

Baca Juga :

Hukum Tambahan Lainnya

Ahli-ahli psikologi Gestalt telah mengadakan penelitian secara luas dalam bidang penglihatan dan akhirnya mereka menemukan bahwaobjek-objek penglihatan itu membentuk diri menjadi Gestalt-gestalt menurut prinsip-prinsip tertentu. Adapun prisip-prinsip tersebut dapat dilihat pada hukum-hukumyaitu :

  1. Hukum keterdekatan
  2. Hukum ketertutupan
  3. Hukum kesamaan

Selain dari hukum-hukum tambahan tersebut menurut aliran teori belajar gestalt ini bahwa seseorang dikatan belajar jika mendapatkan insight. Insight ini diperoleh kalau seseorang melihat hubungan tertentu antara berbagai unsur dalan situasi tertentu. Dengan adanya insight maka didapatlah pemecahan problem, dimengertinya persoalan ; inilah inti belajar.

Jadi yang penting bukanlah mengulang- ulang hal yang harus dipelajari, tetapi mengertinya, mendapatkan insight. Adapun timbulnya insight itu tergantung

  1. Kesangupan Maksudnya kesanguapan atau kemampuan intelegensi individu.
  2. Pengalaman, Karena belajar, berati akan mendapatkan pengalaman dan pengalaman itu mempermudah munculnya insght.
  3. Taraf kompleksitas dari suatu situasi. Dimana semakin komplek situasinya semakin sulit masalah yang dihadapi.
  4. Latihan dengan banyaknya latihan akan dapat mempertinggi kesangupan memperoleh insght, dalam situasi-situasi yang bersamaan yang telah dilatih .
  5. Trial and eror Sering seseorang itu tidak dapat memecahkan suatu masalah. Baru setelah mengadakan percobaan-percobaan, sesorang itu dapat menemukan hubungan berbagai unsur dalam problem itu, sehingga akhirnya menemukan insight.

Baca Juga : 5 Prinsip Dasar yang Baik Dalam Membangun Desain UX

Menurut Hilgard(1948 : 190-195) memberikan enam macam sifat khas belajar dengan insight :

1). Insight termasuk pada kemampuan dasar Kemampuan dasar berbeda-beda dari individu yang satu ke individu yang lain. Pada umumnya anak yang masih sangat muda sukar untuk belajar dengan insight ini.

2). Insight itu tergantung pengalaman masa lampau yang relevan.

3). Insight tergantung kepada pengaturan secara eksperimental,

4). Insight itu didahului oleh suatu periode coba-coba

5). Belajar dengan insight itu dapat diulangi

6). Insight yang telah sekali didapatkan dapat dipergunakan untuk menghadapi   situasi-situasi yang baru.

Berikutnya Baca : 7 Karakteristik Penting Untuk Membuat Desain UI yang Baik!

Sumber : uxplanet.org

Share.

About Author

Techfor Id

Leave A Reply